DUKUNG PEMULIHAN EKONOMI INDONESIA, MARK SUKSESKAN 1000 VAKSIN DALAM SATU HARI

Gambar. Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk, Ridwan Goh menyambut langsung kunjungan Bupati Deli Serdang, Bapak H Ashari Tambunan dan Bapak Kapolresta Deli Serdang, KomBes Pol Yemi Mandagi, SIK dalam Kegiatan Vaksinasi Massal di PT MDI Tbk Kimstar Tanjung Morawa, Deli Serdang

 

Dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi Indonesia lewat vaksin, PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK”) bekerja sama dengan Polresta Deli Serdang menyelenggarakan vaksinasi Covid-19 secara gratis yang diadakan di Pabrik Kawasan Industri Medan Star Tanjung Morawa, Deli Serdang. Vaksinasi yang dilaksanakan pada tanggal 6 Juli 2021 ini sudah berhasil mencapai 1000 vaksinasi. Antusiasme masyarakat sangat tinggi mengingat lokasi vaksinasi berada di wilayah kawasan industri sehingga pabrik-pabrik sekitar MARK juga turut ikut mengarahkan para pekerja untuk divaksin, diantaranya PT Sagami, PT Smart Gloves, Sari Roti, Sosro dan pabrik lain di wilayah Tanjung Morawa Deli Serdang.

Pembukaan vaksinasi ini turut dihadiri oleh Bupati Deli Serdang, Bapak H Ashari Tambunan dan Bapak Kapolresta Deli Serdang, KomBes Pol Yemi Mandagi, SIK yang disambut langsung oleh Presiden Direktur MARK, Bapak Ridwan Goh. Bupati Deli Serdang menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada MARK dan Bapak Ridwan Goh yang senantiasa aktif dalam kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) di Deli Serdang bahkan dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini. Kapolresta Deli Serdang menambahkan pihaknya sangat mendukung program yang disosialisasikan pemerintah dalam memaksimalkan vaksinasi, baik berupa tenaga kesehatan, sarana dan prasarana juga akan disiapkan untuk mensukseskan kegiatan vaksinasi tersebut dan sangat mengapresiasi peran aktif MARK dalam penyelenggaraan vaksinasi tersebut.

Pembukaan vaksinasi ini turut dihadiri oleh Bupati Deli Serdang, Bapak H Ashari Tambunan dan Bapak Kapolresta Deli Serdang, KomBes Pol Yemi Mandagi, SIK yang disambut langsung oleh Presiden Direktur MARK, Bapak Ridwan Goh. Bupati Deli Serdang menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada MARK dan Bapak Ridwan Goh yang senantiasa aktif dalam kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) di Deli Serdang bahkan dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini. Kapolresta Deli Serdang menambahkan pihaknya sangat mendukung program yang disosialisasikan pemerintah dalam memaksimalkan vaksinasi, baik berupa tenaga kesehatan, sarana dan prasarana juga akan disiapkan untuk mensukseskan kegiatan vaksinasi tersebut dan sangat mengapresiasi peran aktif MARK dalam penyelenggaraan vaksinasi tersebut.

Mengingat MARK termasuk dalam salah satu bisnis yang berperan penting sebagai produsen cetakan sarung tangan medis, operasional tetap harus dijalankan untuk membantu negara dalam menjaga kestabilan ekonomi saat ini. Perseroan telah melakukan Standar Operasional Prosedur (SOP) protkol kesehatan yang ketat terkait pandemi untuk pencegahan penularan virus  Covid-19, seperti pengukuran suhu tubuh setiap orang yang masuk ke lingkungan perusahaan, ketersediaan area pencucian tangan, menjaga jarak dalam berinteraksi minimal satu meter, penyemprotan ruangan dengan disinfektan secara berkala serta wajib memakai masker dalam area perusahaan.

MARK MEMBAGIKAN DIVIDEN TUNAI RP 57,7 MILIAR

PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK”) membagikan Dividen Tunai sebesar Rp57,7 miliar kepada 3.800.000.310 saham beredar atau Rp15 per lembar saham. Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang diselenggarakan pada hari ini,  Jumat  28 Mei 2021, bertempat di Prime Plaza Hotel Kualanamu, Deli Serdang. Dividen Tunai tersebut merepresentasikan sekitar 39,53% dari Laba Bersih Tahun Berjalan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2020 yang sebesar Rp144,19 miliar.

Dalam RUPS Tahunan tersebut diputuskan juga antara lain menerima baik dan menyetujui Laporan Tahunan Konsolidasian MARK dan Entitas Anak untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020, termasuk Laporan Tahunan Direksi dan Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris.

Dalam penjelasannya setelah RUPS, Ridwan Goh, Presiden Direktur MARK mengungkapkan bahwa dividen tunai yang dibagikan ini dimaksudkan sebagai apresiasi kepada seluruh pemegang saham Perusahaan. “Manajemen MARK telah berkomitmen untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, antara lain dengan mengusulkan dividen tunai setiap tahunnya. Dan tahun ini merupakan tahun ketiga MARK membagikan dividen setelah IPO pada tahun 2017 silam, bahkan dividen tahun ini diberikan lebih besar persentasenya sejalan dengan pencapaian laba bersih yang naik signifikan”

Kinerja MARK Tahun 2020
Perseroan berhasil menjaga tingkat efisiensi serta mempertahankan kualitas produk sesuai dengan permintaan pelanggan. Hal ini terlihat dari keberhasilan Perseroan menjaga margin laba kotor sebesar 42% dengan nilai sebesar Rp 236,79 miliar. “Gaya hidup baru akan pentingnya kesehatan mendongkrak penjualan sarung tangan, sehingga cetakan sarung tangan menjadi peranan penting dalam produksi sarung tangan”, sebut Ridwan Goh, Presiden Direktur MARK. Perseroan berhasil memperoleh laba bersih pada tahun 2020 sebesar Rp 144,19  miliar yang meningkat sebesar 63,6% jika dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar Rp 88,00 miliar.

Peningkatan laba bersih ini sebagai akibat dari peningkatan Penjualan Perseroan pada tahun 2020 sebesar 56,4% menjadi Rp 565,44 miliar jika dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar Rp 361,54 miliar. Pertumbuhan kinerja operasional yang dicapai Perseroan pada tahun 2020 berjalan seiring dengan peningkatan kinerja keuangan dimana Total Aset Perseroan meningkat sebesar 63,11% menjadi Rp 719,72 miliar per 31 Desember 2020 dibandingkan dengan Rp 441,25 miliar Per 31 Desember 2019.

Kinerja MARK Kuartal I Tahun 2021
Ridwan Goh menyampaikan bahwa Perseroan kembali menunjukkan kinerjanya yang positif di kuartal I tahun 2021 ini. Perseroan mampu meningkatkan laba bersih sebesar Rp 69,35 miliar pada kuartal I tahun 2021 yang meningkat sebesar 197,4% jika dibandingkan dengan kuartal I tahun 2020 sebesar Rp 23,3 miliar. Perseroan berhasil menjaga margin laba kotor di 50,85% dengan nilai sebesar Rp 110,63 miliar dan margin laba bersih di 31,9%. Hal ini didukung dari peningkatan penjualan Perseroan sebesar 124,75% yaitu Rp 217,58 miliar pada kuartal I tahun 2021 jika dibandingkan dengan kuartal I tahun 2020 sebesar Rp 96,81 miliar.Pencapaian Laba ini didukung dengan strategi produksi dan efisiensi Perseroan sepanjang kuartal I tahun 2021 di tengah pandemi Covid-19. Bukan tidak mungkin MARK melipat gandakan kinerja mereka seiring berjalannya tahun 2021. Ditambah lagi kondisi ekonomi global yang mulai pulih secara perlahan karena telah tersedianya vaksin di seluruh dunia.

Perseroan sudah memproyeksikan target penjualan senilai Rp 1,1 triliun dan optimis mencapai laba bersih Rp 300 miliar pada akhir tahun 2021. Target ini diyakini bisa tercapai karena MARK sudah mengantongi sales kontrak sebesar $ 80 juta dengan pengapalan di tahun 2021. Tingginya permintaan ini akan terus berlangsung dalam kurun waktu 2-3 tahun mendatang. Setelah kondisi kembali normal, permintaan sarung tangan secara global diperkirakan tetap akan bertumbuh sebesar 10% – 15% per tahun. Salah satu strategi MARK untuk mengejar pertumbuhan penjualan adalah perseroan senantiasa menambah pelanggan baru. Saat ini Perseroan dalam tahap peningkatan kapasitas menjadi 1.900.000 unit per bulan di akhir tahun 2021 guna memenuhi permintaan pelanggan.

MARK Mempertahankan Kinerja Positif dengan kenaikan Laba Bersih 197,4 % pada Kuartal I Tahun 2021

PT  Mark  Dynamics  Indonesia  Tbk  (“MARK”),  emiten  yang bergerak dalam pembuatan untuk  medis,  rumah  tangga produk porselen cetakan sarung tangan yang akan digunakan dan  industri manufaktur. Perseroan berdomisili di  Kawasan Industri Medan Star, Deli Serdang Sumatera Utara berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 217,58 miliar pada kuartal I tahun 2021 yang meningkat sebesar 124.75 % jika dibandingkan dengan kuartal I tahun 2020 sebesar Rp 96,81 miliar dan laba bersih sebesar Rp 69,35 miliar , meningkat 197,4% dibanding kuartal I tahun 2020 yang sebesar Rp 23,3 miliar

Laba kotor Perseroan pada kuartal I tahun 2021 naik sebesar 170.95 % menjadi Rp 110,63 miliar jika dibandingkan dengan kuartal I tahun 2020 sebesar Rp 40,83 miliar. Pencapaian yang diraih oleh MARK merupakan keberhasilan Perseroan menjaga tingkat efisiensi serta mempertahankan kualitas produk sesuai dengan permintaan pelanggan. Hal ini terlihat dari keberhasilan Perseroan menjaga margin laba kotor di 50,85 % dengan nilai sebesar Rp 110,63miliar.

Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh menyampaikan bahwa kinerja yang positif membuat Perseroan mampu menaikkan laba di kuartal I tahun 2021. “Kenaikan laba ini didukung
dengan strategi produksi dan efisiensi Perseroan di tengah pandemi Covid-19,” sebut Ridwan. Keberhasilan perseroan dalam penetrasi pasar baru serta strategi produksi untuk mencapai efisiensi dan peningkatan kualitas produk menjadi latar belakang peningkatan laba di kuartal I tahun 2021.

Kondisi ini berdampak positif bagi MARK yang sudah mengantongi kontrak senilai US$ 70 juta  untuk  pengapalan  pada  2021.  “Ada  kenaikan  average  selling price  (ASP)  dan
penambahan kapasitas hampir dua kali lipat, target penjualan konsolidasi akan mencapai angka Rp 1,061 Triliun dengan laba bersih sekitar Rp 300,6 Milyar.”,kata Ridwan Goh
Presiden Direktur MARK. Situasi ini tidak akan berhenti sampai di sini dan akan terus menampakkan pertumbuhan yang signifikan. “Di 2022 nanti, penjualan konsolidasi akan naik
40% dari 2021 yaitu menjadi Rp 1,474 Triliun dan bottom line sekitar Rp 433,3 Milyar”,tambah Ridwan Goh. Bukan tidak mungkin MARK melipat gandakan kinerja mereka seiring berjalannya tahun 2021. Ditambah lagi kondisi ekonomi global yang mulai pulih secara perlahan karena telah tersedianya vaksin di seluruh dunia. Tingginya permintaan ini akan terus berlangsung dalam kurun  waktu  2-3  tahun  mendatang.  Setelah  kondisi  kembali  normal, permintaan  sarung tangan secara global diperkirakan tetap akan bertumbuh sebesar 10% – 12% per tahun.

Total Aset Meningkat 15.87 %

Pertumbuhan kinerja operasional yang dicapai Perseroan pada tahun kuartal I tahun 2020 berjalan  seiring  dengan  peningkatan  kinerja  keuangan  dimana  Total  Aset Perseroan meningkat sebesar 15.87 % menjadi Rp 833,97 miliar per 31 Maret 2021 dibandingkan dengan Rp  719,72    miliar  per 31 Desember 2020. Aset  Lancar  mengalami  peningkatan sebesar 20.66 % dengan nilai sebesar Rp 430.62 miliar per 31 Maret 2021 dibandingkan dengan Rp 356,87  miliar per 31 Desember 2020. Sementara peningkatan Aset Tidak Lancar sebesar 11.16 % dengan nilai Rp 403.34 miliar per 31 Maret 2021 jika dibandingkan dengan Rp  362,84    miliar per  31  Desember 2020.  Peningkatan  juga terjadi  pada posisi  Ekuitas Perseroan sebesar Rp 478.82 miliar per 31 Maret 2021 dibandingkan dengan Rp 409.47 miliar per 31 Desember 2020.

Tabel Ringkasan Kinerja Operasional
Kinerja Operasional (dalam Rupiah)

  Q1 – 2021

(Rp)

Q1 – 2020

(Rp)

% naik
Penjualan 217.577.718.658 96.815.016.470 124.75 %
Beban Pokok Penjualan (106.946.636.350) (55.978.911.507) 91,23%
Laba Bruto 110.631.082.307 40.836.104.963 170.95 %
Laba Bersih 69.346.654.290 23.356.834.554 197.42%

 

Oase di tengah pandemi MARK menutup tahun buku 2020 dengan capaian gemilang, laba bersih naik 64%

Produsen cetakan sarung tangan kesehatan berbasis porselen, PT Mark Dynamics Indonesia Tbk mendapatkan laba sebesar Rp 144,19 miliar yang meningkat sebesar 63,85 % jika dibandingkan dengan tahun 2019 sebesar Rp 88,00 miliar.

“Gaya  hidup  baru  akan  pentingnya  kesehatan  mendongkrak  penjualan  sarung  tangan, sehingga cetakan sarung tangan menjadi peranan penting dalam produksi sarung tangan.”,sebut Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh.

Peningkatan laba bersih ini dicapai karena keberhasilan perseroan dalam penetrasi pasar baru serta strategi produksi untuk mencapai efisiensi dan peningkatan kualitas produk.  Pada tahun 2020 ini MARK mencetak penjualan tertinggi sepanjang masa dengan membukukan Rp 565.44 miliar, naik 56,39% dari tahun 2019 sebesar  Rp 361,54  miliar. Hal ini terlihat dari keberhasilan Perseroan menjaga margin laba kotor sebesar 42% dengan nilai sebesar Rp 236.79 miliar.

Volume produksi Perseroan meningkat sebesar 22% menjadi 8,8 juta pieces di tahun 2020 dibandingkan dengan 7,2 pieces di tahun 2019. Kenaikan permintaan cetakan sarung tangan ini otomatis akan mendorong kinerja Perseroan lebih positif MARK sendiri adalah penguasa pasar global untuk cetakan sarung tangan. Per tahun 2020, MARK telah mencakup market shares sebesar 35% dengan kapasitas produksi sebanyak 800rb pieces/bulan. Pelanggan setia MARK sampai saat ini adalah beberapa pemain utama produsen sarung tangan di pasar internasional, yakni Hartalega, Top Gloves, Kossan, dan Sri Tang. Berkat pandemi, MARK berhasil melebarkan sayapnya sampai Tiongkok, mendapatkan kepercayaan dari pemain-pemain besar seperti Intco, Zhong Hong Pu Lin, dan BlueSail.

Malaysian  Rubber  Glove  Manufacturers  Association  (MARGMA)  meyakini  permintaan sarung tangan di tingkat global tumbuh menapai 50%   di tahun 2020 dibanding prediksi
sebelumnya. Sebelumnya diprediksikan bahwa permintaan sarung tangan secara global di tahun 2020 sekitar 300 milyar pieces, akan tetapi permintaan di masa covid-19 menjadi
sekitar  420  milyar  pieces. Hal  ini  dikarenakan  pandemi  covid-19  serta  meningkatnya kesadaran yang lebih tinggi pemakaian sarung tangan serta diterapkannya protokol kesehatan yang lebih ketat dibandingkan sebelumnya.  Malaysia tetap memegang pangsa pasar global terbesar yaitu dengan pangsa 67%. Negara Malaysia telah menjadi tujuan ekspor terbesar buat  perseroan menyusul Thailand,  China  dan  Vietnam.  Peningkatan permintaan  sarung tangan global ini, akan secara langsung mendorong peluang pertumbuhan MARK di tahun- tahun berikutnya.

Selama  2020,  MARK  menjadi  tujuan  utama  produsen  sarung  tangan  dunia,    hal  ini  menjadi pendorong    bagi  meningkatnya  average  selling  price  (ASP)  sekitar  15  %. Sebagai  informasi, permintaan cetakan sarung tangan  global di tahun ini melonjak lebih dari 100% dimana supply seluruh dunia hanya naik lebih kurang 30% dan MARK terus berusaha memenuhi supply side. MARK bahkan telah   mengantongi kontrak penjualan sebesar sekitar US$ 70 juta untuk pengapalan pada 2021. Produk perseroan laku keras seiring dengan permintaan sarung tangan secara global. Pada kontrak mendatang selain Malaysia, produsen sarung tangan juga berasal dari  beberapa  negara  seperti  China,  Thailand,  Vietnam,  Afrika  Selatan,  dan  Amerika Serikat,” ujar Ridwan.

Penjualan MARK selama ini berorientasi pada pasar ekspor dengan komposisi sekitar 77% dan pasar domestik sekitar 33%. Porsi penjualan lokal meningkat menjadi 33% , dikarenakan hasil konsolidasi dengan perusahaan anak yang baru di akuisisi di bulan Juli 2020. Penjualan ekspor dari MARK sendiri terus stabil dengan komposisi ekspor 95% dan domestik sebesar 5% mengingat negara yang menjadi tujuan ekspor utama MARK adalah Malaysia yang merupakan produsen sarung tangan yang memiliki 65% pangsa pasar sarung tangan di dunia.

Total Aset Meningkat 63,11 %

Pertumbuhan kinerja operasional yang dicapai Perseroan pada tahun 2020 berjalan seiring dengan peningkatan kinerja keuangan dimana Total Aset Perseroan meningkat sebesar 63,11% menjadi Rp 719,72 miliar per 31 Desember 2020 dibandingkan dengan Rp 441,25 miliar Per 31 Desember 2019. Aset Lancar mengalami peningkatan sebesar 61,96% dengan nilai sebesar Rp 356,87 miliar per 31 Desember  2020  dibandingkan dengan  Rp  220,34  miliar  per  31  Desember  2019.  Sementara peningkatan Aset Tidak Lancar sebesar 64,24% dengan nilai Rp 362,84 miliar per 31 Desember 2020 jika dibandingkan dengan Rp 220,91 miliar per 31 Desember 2019.

Peningkatan juga terjadi pada posisi Ekuitas Perseroan sebesar Rp 409.47  miliar per 31 Desember 2020 dibandingkan dengan Rp 299,02 miliar per 31 Desember 2019. Peningkatan Ekuitas terjadi menyusul tercapainya peningkatan Saldo Laba Ditahan sebesar Rp 315,5   miliar per 31 Desember 2020 dibandingkan dengan posisi Rp 200,39 miliar per 31 Desember 2019. “Pertumbuhan berkualitas dan berkelanjutan akan tetap dijaga Perseroan”,ungkap Ridwan.

Tabel Ringkasan Kinerja Operasional
Kinerja Operasional (dalam Rupiah)

  2020 (Rp) 2019 (Rp) % naik
Penjualan 565.439.688.892 361.544.998.431 56,4%
Beban Pokok Penjualan 328.644.769.596 205.122.192.818 60,3%
Laba Bruto 236.794.919.296 156.422.805.613 51,3%
Laba Operasional 186.691.686.387 118.687.394.019 57,6%
Laba Bersih 144.194.690.952 88.002.544.534 63,6%

 

Harapan Ketua AEI Sumut akan Penurunan Harga Gas yang Belum Merata

Dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai negara berkembang, Pemerintah telah melakukan banyak terobosan. Salah satunya adalah dengan cara menurunkan harga gas. Melalui Kementrian ESDM pada April 2020, harga gas industri resmi telah diturunkan dari $10.28/Mmtbu menjadi $6.52/Mmbtu untuk 7 sektor manufaktur berbasis gas. Dalam Keputusan Menteri ESDM No. 89 K/10/MEM/2020 tentang Tata Cara Penetapan Penggunaan dan Harga Gas Bumi Tertentu di Bidang Industri, terdapat 197 perusahaan yang menerima manfaat penurunan harga gas.

Penurunan harga gas ini menjadi angin segar bagi perusahaan-perusahaan yang menggunakan gas dalam jumlah banyak. Pemotongan biaya produksi ini akan membuat perusahaan menjadi efisien dan dapat memberikan daya saing yang lebih kompetitif. Terlebih lagi jika produk yang dihasilkan akan di ekspor ke negara lain untuk bersaing.

Tidak hanya itu, harga gas yang murah membuat perusahaan dapat berjalan lebih efisien sehingga menambah pundi-pundi laba bagi perusahaan. Laba tersebut dapat digunakan untuk menutup biaya operasional lainnya, terutama membayar gaji karyawan. Sebagaimana diketahui, kondisi ekonomi seluruh dunia pasca Corona pun dihantam babak belur. Di Indonesia sendiri, menurut Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, angka pengangguran yang sebelumnya 6,8 juta meningkat menjadi 10,3 juta, atau kenaikan sebesar 51,47%. Kenaikan signifikan tersebut tentunya sangat berdampak negatif terhadap ekonomi nasional. Oleh karena itu, melalui kebijakan penurunan harga gas yang sama rata dan adil, Pemerintah seharusnya bisa membantu perusahaan-perusahaan untuk menjadi lebih efisien dalam menjalankan bisnis sehingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pun tidak akan meningkat lagi kedepannya.

Tetapi, fakta di lapangan memiliki cerita berbeda. Masih banyak perusahaan yang belum mendapatkan manfaat penurunan harga gas ini. Alasan yang paling lumrah ditemukan adalah karena distributor gas belum menyelesaikan perjanjian dengan seluruh industri hulu gas, sehingga penetapan tarif gas senilai $6/Mmbtu harus tertunda. Artinya, beberapa perusahaan yang berbasis gas masih saja harus membayar di tarif sebelumya yakni sekitar $9-$11/Mmbtu.

Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Sumatera Utara, Ridwan Goh, mengatakan bahwa dirinya juga mendapat laporan yang sama dari beberapa perusahaan yang menggunakan gas dalam jumlah banyak. “Kami mengapresiasi langkah pemerintah untuk menurunkan harga gas ini, walaupun masih belum benar-benar sepenuhnya menjadi $6/Mmbtu. Pengajuan dari beberapa perusahaan kepada Pemerintah masih belum mendapatkan approval hingga saat ini”, katanya.Ketika ditanya akan perusahaan yang dipimpinnya, PT Mark Dynamics, Tbk, Ridwan juga menuturkan hal yang serupa. Ekspansi pabrik baru Mark belum mendapatkan persetujuan untuk mencicipi harga gas industri yang ekonomis ini. “Kalau untuk pabrik pertama sudah kami rasakan manfaatnya, kami juga berterima kasih untuk itu. Tapi untuk pabrik baru ini tariff yang dibebankan masih $10,28/Mmbtu”, kata Ridwan.

Ridwan mengatakan Mark bukan satu-satunya perusahaan yang masih belum mendapatkan manfaat ini sepenuhnya. Ridwan berharap Pemerintah dapat merampungkan eksekusi ini secara cepat dan merata. “Saya disini berbicara sebagai medium, mewakilkan beberapa perusahaan, tidak hanya Mark Dynamics, untuk menyampaikan dengan etikad baik kepada Pemerintah bahwa pemerataan harga gas ini pasti akan memberikan dampak baik terhadap ekonomi Indonesia secara keseluruhan.”, imbuhnya. Penurunan biaya gas ini tentunya akan mempertebal marjin perusahaan-perusahaan, sehingga pembayaran pajak kepada negara juga semakin bertambah. “Kami berharap adanya respon positif dari Pemerintah untuk saling membantu dan melengkapi, apalagi dalam keadaan ekonomi seperti ini dimana banyak perusahaan yang menggencarkan efisiensi untuk bertahan hidup”, tambahnya.

Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, dengan harga gas industri di Indonesia sebesar $9-11/Mmbtu tergolong sangat mahal jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Sebagai contoh, harga gas di Malaysia tahun 2021 hanya sebesar $5.48/Mmbtu. Langkah pemerintah untuk menurunkan harga gas secara merata menjadi $6/Mmbtu ini akan membuat pabrik-pabrik Indonesia menjadi lebih kompetitif untuk head-to-head dengan pabrik-pabrik di negara lain.

Presdir Yakin Membawa MARK Menembus Rekor Rp 1 Triliun di 2021

Memasuki tahun 2021, prospek bisnis produsen cetakan sarung tangan kesehatan berbasis porselen sangat besar dan menjanjikan untuk terus tumbuh. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pemakaian sarung tangan, perlengkapan wajib para dokter dan perawat di garda depan penanganan Covid-19, serta penerapan protokol kesehatan di masa pandemi ini masih menjadi faktor penting permintaan produksi sarung tangan. Hal ini akan menjadi gaya hidup baru yang tidak akan terlepas dari kehidupan sehari-hari.

Di 2020, perseroan telah meningkatkan kapasitas produksi hingga mampu mencetak 800.000 pcs/bulan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, utilisasi kapasitas baru tersebut mencapai titik maksimum hanya dalam 2 bulan. Ini disebabkan oleh kurangnya pasokan cetakan sarung tangan di pasar global disaat permintaan sedang berada di puncak tertingginya. Alhasil, perseroan telah mengalokasikan capex lebih kurang Rp 150 Milyar untuk pembangunan pabrik baru yang ditotalkan akan mampu mencetak 1,4 juta pcs/bulan dimulai dari Kuartal II 2021.

Pesanan MARK sudah dikantongi sekitar 98 % dari total permintaan terdaftar di tahun 2021. Beberapa dari pelanggan tersebut merupakan pelanggan setia yang merupakan pemain utama produsen sarung tangan di panggung internasional, yakni Hartalega, Top Gloves, Kossan, Sri Tang, Intco, Zhong Hong Pu Lin, dan BlueSail. Bahkan beberapa pelanggan baru ingin melakukan spot in dengan membeli produk MARK lebih mahal 50% dari harga normal. Dengan adanya penawaran bagus ini, Ridwan Goh memperkirakan kemungkinan akan ada kenaikan harga jual rata-rata di 2021. “Melihat kondisi pasar yang cukup imbalance, average selling price (ASP) diperkirakan akan naik sekitar 15%. Ini tentunya katalis positif bagi kami untuk memacu kinerja di tahun recovery ini”, ujar pemenang Rising Star CEO tersebut.

Kondisi ini berdampak positif bagi MARK yang sudah mengantongi kontrak senilai US$66,8 juta untuk pengapalan pada 2021. Beliau juga yakin akan berhasil mencapai target yang telah ditetapkan untuk menyambut tahun baru ini. Tidak tanggung-tanggung, target penjualan akan naik sebesar dua kali lipat dari penjualan di 2020. “Untuk penjualan 2020 mungkin akan dicapai sekitar Rp 548 Milyar, namun masih menunggu proses audit. Sedangkan di 2021, dengan adanya kenaikan ASP dan penambahan kapasitas hampir dua kali lipat, target penjualan konsolidasi akan mencapai angka Rp 1,061 Triliun dengan laba bersih sekitar Rp 300,6 Milyar.”, kata Ridwan Goh. Menurutnya, target tersebut sangat realistis setelah mempertimbangkan kondisi pasar saat ini. “Di 2022 nanti, penjualan konsolidasi akan naik 40% dari 2021 yaitu menjadi Rp 1,474 Triliun dan bottom line sekitar Rp 433,3 Milyar”, tambah Ridwan.

Berbanding lurus dengan permintaan yang masuk, persediaan bahan baku untuk cetakan sarung tangan sudah tersedia 90% dari total bahan baku yang akan dipakai di Semester Itahun 2021. Bahan baku yang diperlukan dalam pembuatan cetakan porselen sarung tangan ini seluruhnya diimpor dari Eropa, dan bebeapa negara lainnya. MARK memastikan seluruh bahan baku terjamin kualitasnya untuk menghasikan output yang baik kualitasnya dan sesuai dengan permintaan produsen sarung tangan. “Melihat data tersebut, potensi bisnis MARK sangat besar dan terus menjanjikan” ujar Ridwan Goh.

Sebagai tambahan, MARK sendiri telah mengakuisisi dua anak perusahaan yang masing-masing bergerak di produk saniter dan agrikultur. Akuisisi dilakukan di semester pertama 2020 dengan kucuran dana sekitar Rp 70 Milyar. Produk saniter, seperti toilet duduk dan jongkok, akan menggunakan sisa bahan baku dari cetakan sarung tangan. Sedangkan produk pertanian yang dipasarkan oleh PT Agro Dynamics Indonesia adalah sprayer, herbisida, dan etephon (penyubur) yang dibutuhkan oleh industri pertanian. Kedua lini bisnis ini diproyeksikan dapat berkontribusi sebesar 10% – 15% total penjualan.

Dengan mempertimbangkan semua aspek ini, bukan tidak mungkin MARK melipat gandakan kinerja mereka di 2021. Ditambah lagi kondisi ekonomi global yang mulai pulih secara perlahan karena telah tersedianya vaksin di seluruh dunia. Tingginya permintaan ini akan terus berlangsung dalam kurun waktu 2-3 tahun mendatang. Setelah kondisi kembali normal, permintaan sarung tangan secara global diperkirakan tetap akan bertumbuh sebesar 10% – 12% per tahun.

Langka dan Berkualitas, Produk Mark Dynamics Ditawar 50% Lebih Mahal

Deli Serdang, 26 Desember 2020 – Dalam kondisi sulit seperti ini, tidak dipungkiri
bahwa banyak perusahaan yang membukukan penurunan omset yang drastis. Terlebih lagi,
terjadi kebijakan lockdown beberapa kali diseluruh penjuru dunia yang mengakibatkan
berhentinya bisnis untuk jangka waktu yang cukup lama. Akan tetapi, Mark Dynamics,
perusahaan cetakan sarung tangan yang berdomisili di Sumatera Utara, malah kecipratan
permintaan. Perusahaan sedang menggenjot kapasitas produksi untuk melayani permintaan
baru yang memberikan penawaran harga yang memukau.

Di awal pandemi, Mark sendiri memang mengalami sedikit kesulitan yang diakibatkan
oleh kebijakan lockdown yang diterapkan diseluruh dunia, terutama di Malaysia. Ridwan Goh
selaku CEO pun membenarkan hal tersebut. “Kebetulan 65% penjualan kami menuju ke
Malaysia karena mereka adalah produsen sarung tangan terbesar di dunia”, ujarnya.
“Kebijakan lockdown tersebut memang membuat supply chain sangat terganggu di semester
pertama. Tetapi setelah dilonggarkan, bisnis kami pun sudah berjalan normal dan bahkan
permintaan akan produk kami melesat tinggi.”. Menjawab hal tersebut, Ridwan pun
mengambil keputusan untuk menambah kapasitas sebanyak 100ribu pcs/bulan pada
pertengahan tahun 2020.

Tetapi, peningkatan kapasitas produksi tersebut masih belum cukup. Faktanya,
permintaan akan cetakan sarung tangan berada di level tertinggi dalam sejarah, melampaui
lonjakan permintaan di tahun 2009 dimana terjadi wabah pandemi H1N1. Melihat hal
tersebut, Ridwan memutuskan untuk melakukan ekspansi lagi dengan tambahan kapasitas
sebesar 600ribu pcs/bulan. Groundbreaking pun sudah dilakukan di awal Desember 2020 ini
dan pabrik baru yang akan mampu mencetak total 1.4juta pcs/bulan ini direncanakan
rampung di akhir kuartal I 2021.

Ridwan mengatakan bahwa saking tingginya permintaan, banyak perusahaan sarung
tangan menawarkan untuk membayar lebih mahal agar bisa mendapatkan produk Mark
terlebih dahulu. Padahal, hingga saat ini, banyak pelanggan baru telah rela membayar down
payment untuk mendapatkan reservasi. “Ya, barusan saja ada beberapa perusahaan yang mau
membayar 50% lebih mahal untuk produk kami agar didahulukan. Ini menunjukkan tingginya
kualitas produk kami disaat kekurangan supply dalam pasar,” ujar pemenang Rising Star
CEO dua kali di tahun 2020 ini. “Tetapi kami tetap menjaga integritas untuk selalu
memprioritaskan existing clients kami. Kami sadar sepenuhnya bahwa merekalah yang telah
mempercayai kami sejak penjualan masih kecil.”

Mark sendiri adalah penguasa pasar global untuk cetakan sarung tangan. Per tahun 2020,
diperkirakan bahwa Mark telah mencakup market share sebesar 45% dengan kapasitas
produksi sekarang sebanyak 800rb pcs/bulan. Kualitas produk Mark tentunya tidak diragukan
lagi. Pelanggan setia Mark sampai saat ini adalah beberapa pemain utama produsen sarung
tangan di panggung internasional, yakni Hartalega, Top Gloves, Kossan, dan Sri Tang.
Berkat pandemi, Mark berhasil melebarkan sayapnya sampai Tiongkok, mendapatkan
kepercayaan dari pemain-pemain besar juga seperti Intco, Zhong Hong Pu Lin, dan BlueSail.
Selama 2020, Mark memang telah menaikkan average selling price (ASP) setidaknya
15%. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan yang bertolak belakang dengan
pasokannya. Sebagai informasi, permintaan cetakan sarung tangan global di tahun ini
melonjak lebih dari 100% dimana supply seluruh dunia hanya naik lebih kurang 30%. Ini
menjawab kenapa harga rata-rata penjualan Mark Dynamics naik di tahun pandemi ini.

Dorongan permintaan tersebut juga tercerminkan pada harga saham Mark Dynamics
(IDX: MARK). Dengan posisi neraca yang kuat dan didukung oleh kenaikan sales secara
YoY sebanyak 27%, saham MARK telah naik lebih kurang 126% dari awal tahun hingga saat
ini (ytd). Ini menunjukkan optimisme investor terhadap kinerja spektakuler Mark yang
diperkirakan akan semakin baik di tahun mendatang, mempertimbangkan rampungnya pabrik
baru di kuartal I 2021.

Porselen Cetakan Sarung Tangan Berkilap-kilap di Tengah Resesi

Deli Serdang, 17 Desember 2020 – Dengan tema resilience in pandemic dalam Bisnis
Indonesia Award 2020, PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) menyandang dua
penghargaan prestisius sekaligus yaitu The Most Promising Company in Basic Industry and
Chemicals dan Rising Star CEO yang diberikan khusus untuk Ridwan Goh selaku CEO MDI.

Dengan produksi sebanyak 800 ribu pcs per bulan, Mark adalah produsen cetakan sarung
tangan berbahan porselen terbesar di dunia yang berdomisili di Sumatera Utara. Bisnis unik
yang digeluti membuat Mark menjadi satu-satunya pemain domestik. Tetapi itu tidak
membuat Mark menjadi spesial. Perusahaan cetakan sarung tangan ini harus bersaing ketat di
panggung internasional. Mengingat produsen sarung tangan terbesar di dunia adalah
Malaysia, kompetitor Mark juga banyak yang berdomisili di Malaysia.

Rata-rata perusahaan khusus cetakan sarung tangan di Malaysia hanya mempunyai
kapasitas produksi 70-200 ribu pcs/bulan. Sebagai contoh, Vaytech Ceramic Formers Sdn.
Bhd yang berlokasi di Selangor, Malaysia memiliki kapasitas terinstalasi sebesar 70 ribu
pcs/bulan. Perusahaan Jepang yang beroperasi di Malaysia, SHINKO Ceramics (M) Sdn Bhd,
dapat memproduksi sebanyak 200 ribu pcs/bulan. Angka-angka ini menunjukkan seberapa
dominan posisi Mark di pasar internasional.

Di masa kesulitan ini, Mark malah berhasil terus membukukan kenaikan total penjualan
hingga Rp 345M sampai kuartal III 2020, pertumbuhan sebesar 29% dari periode yang sama
tahun sebelumnya. Marjin laba kotor sebesar 43% ini menunjukkan seberapa efisien Mark
dalam menjalankan bisnis. Dengan angka tersebut, Mark merupakan salah satu perusahaan
dengan Marjin kotor tertinggi di Industri Dasar dan Kimia. Laba bersih perseroan kuartal III
yang sebesar Rp 90M, diproyeksi akan menembus angka Rp 130M di akhir tahun ini.

Terlebih lagi, disaat banyak perusahaan sangat konservatif untuk bertahan hidup, Mark
sendiri akan menggelontorkan lebih kurang Rp 200M untuk pembangunan pabrik baru kedua
diatas lahan sekitar 9 hektar di Dalu Sepuluh, Tanjong Morawa. Konstruksi telah dimulai di
awal Desember 2020 dan diperkirakan akan rampung di kuartal III 2021. Ridwan percaya
bahwa ekspansi ini akan membawa Mark semakin terdepan di industri cetakan sarung tangan.
“Kami menargetkan untuk mencapai total kapasitas produksi sebanyak 1,4 juta pcs/bulan
mulai dari paruh kedua tahun depan”, ungkapnya. Ini semua menjustifikasi dengan jelas
kenapa penghargaan prestisius The Most Promising Company in Basic Industry and
Chemicals secara khusus diberikan kepada Mark dalam acara Bisnis Indonesia Award 2020.

Pencapaian luar biasa tersebut pastinya tidak lepas dari tangan dingin seorang Ridwan
Goh yang menjabat sebagai CEO. Ridwan sendiri telah meniti karir di Mark Dynamics
selama 12 tahun. Dimulai dari Marketing Manager, Ridwan didorong untuk mendongkrak
penjualan perusahaan yang saat itu masih sangat kecil. Dengan pertumbuhan yang kencang,
Ridwan kemudian di promosikan sebagai General Manager dan ditargetkan untuk melakukan
efisiensi besar-besaran. Hasil kerja keras tersebut membawa beliau untuk menduduki jataban
sebagai orang nomor satu di perusahaan pada tahun 2018. Dengan pertumbuhan penjualan
sekitar 20% per tahun dalam 10 tahun dan beroperasi dengan marjin laba kotor 43%, ini
menunjukkan kepiawaian Ridwan dalam memimpin perusahaan.

Mengetahui perusahaan dipimpin oleh CEO millennial yang memiliki segudang pencapaian
ini, para investor pun sumringah telah berinvestasi di saham MARK yang IPO di 2017.
Bagaimana tidak, saham MARK sendiri hingga saat ini telah naik setidaknya 1000% sejak
IPO. Warren Buffett, investor tersukses di dunia, selalu menekankan pentingnya berinvestasi
pada perusahaan luar biasa yang dikelola oleh manajemen yang berkompeten di bidangnya
dan berintegritas. Menoreh penghargaan Rising Star CEO dalam acara Bisnis Indonesia
Award 2020 adalah sebuah pencapaian yang pantas dibanggakan oleh seorang Ridwan Goh
yang pada tahun ini terpilih sebagai ketua Asosiasi Emiten Indonesia Sumatera Utara.
Tidak hanya penghargaan tersebut mencerminkan kompetensi beliau, tetapi jauh lebih penting
adalah integritas menjadi seorang pemimpin. “Saya tentunya senang diberikan penghargaan
ini. Saya juga ingin memberikan apresiasi tertinggi saya kepada semua rekan kerja yang telah
membantu dan mendukung saya sampai sekarang. Perlu diingat, Mark Dynamics bukanlah
one man team, semua hasil ini adalah kerja keras bersama untuk memberikan hasil yang
memuaskan kepada seluruh stakeholders”, ungkap CEO berusia 37 tahun tersebut. Ini bukan
kali pertama Ridwan menerima penghargaan Rising Star CEO. Di awal tahun ini, beliau juga
menerima penghargaan yang sama dalam acara IDX Channel Innovation Award 2020.

MARK Targetkan Penjualan di 2021 Sebesar Rp 874 Miliar Seiring Dengan Meningkatnya Permintaan Cetakan Sarung Tangan

Medan, 26 November 2020 – Prospek Bisnis produsen cetakan sarung tangan kesehatan
berbasis porselen sangat besar dan menjanjikan untuk terus tumbuh. Hal ini dikarenakan
meningkatnya kesadaran masyarakat yang lebih tinggi akan pemakaian sarung tangan serta
diterapkannya protokol kesehatan yang lebih ketat dibandingkan sebelumnya di masa
pandemi Covid-19. Selain itu, adanya  larangan pemerintah China untuk menggunakan
sarung tangan berbasis PVC di China karena dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan
menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan bisnis ini.

Ridwan Goh, Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK), emiten yang
sahamnya tercatat di papan utama Bursa Efek Indonesia, yang bergerak dalam pembuatan
produk porselen cetakan sarung tangan menuturkan bahwa permintaan akan sarung tangan
kesehatan berada pada tingkat permintaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Dalam 10 tahun terakhir, tren permintaan sarung tangan konsisten bertumbuh 10% – 12% per
tahun, sedangkan ditengah kondisi pandemi Covid-19, permintaan melesat hingga 30%
sehingga industri sarung tangan tergoncang oleh ketidakseimbangan supply dan demand.
Permintaan akan sarung tangan melonjak tinggi, namun pasokan cetakan sarung tangan
sangat terbatas. Sebagai contoh, konsumsi sarung tangan per kapita di India telah meningkat
dari 4 unit menjadi 30 unit, yang mana permintaan tersebut telah melampaui pasokan di
wilayah tersebut.

Kondisi ini tentunya berdampak positif bagi MARK sebagai ±40% pemasok pasar global
cetakan sarung tangan karet dimana 95% dari penjualan Perseroan diserap oleh pasar ekspor
dan Malaysia merupakan pelanggan terbesar dengan komposisi sekitar 65% dari total
penjualan. Bahkan saat ini, MARK sudah mengantongi kontrak senilai US$52 juta untuk
pengapalan pada 2021. “Oleh karena itu MARK sudah mematok proyeksi penjualan pada
2021 sebesar Rp 874 miliar yaitu meningkat sebesar 72 % dibanding penjualan di tahun 2020
ini yang kami proyeksikan sebesar Rp 507 miliar dan proyeksi laba pada 2021 sebesar Rp
228 miliar yaitu meningkat sebesar 66% dibandingkan laba di tahun 2020 yang diproyeksikan
sebesar Rp 138 miliar’’ ujar Ridwan Goh dengan optimis .

Lonjakan permintaan sarung tangan saat pandemi membuat produsen cetakan sarung tangan
MARK tidak menunda lama untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Kapasitas produksi
Perseroan yang semula 700.000 unit per bulan di tahun 2020 tidak mencukupi permintaan
cetakan sarung tangan yang begitu agresif, sehingga  mulai kuartal III tahun 2020 Perseroan
meningkatkan kapasitasnya menjadi 800.000 unit per bulan.

Dengan naiknya permintaan pasar dan guna memenuhi permintaan yang selalu meningkat
tersebut, Perseroan pun berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksinya dengan
membangun pabrik baru kedua di desa Dalu, Tanjung Morawa yang estimasinya akan
rampung pada bulan Mei tahun 2021 sehingga kondisi ini akan menambah kapasitas produksi
MARK menjadi sekitar 1,1 juta unit per bulan pada tahun 2021 dan bahkan akan ditingkatkan
hingga mencapai 1,8 juta unit per bulan pada awal tahun 2022.


Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh menyampaikan bahwa untuk pembangunan pabrik
baru ini, MARK akan melakukan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp
150 miliar. Angka ini sudah mencakup biaya untuk mendirikan bangunan, pembelian mesin
serta instalasi mesin. Sumber dana yang dipakai Perseroan berasal dari kas dan kredit
perbankan

MARK sebagai produsen cetakan sarung tangan berbasis keramik menjadi emiten yang
memiliki keunggulan dalam kondisi saat ini. Harga saham emiten berkode MARK ini
melambung  92,47 % secara year to date (ytd) ke posisi Rp 870 per 31 Oktober 2020 dari
Rp 452 pada awal tahun ini.

“Melihat data tersebut, potensi bisnis MARK sangat besar dan terus menjanjikan” ujar
Ridwan Goh.