Permintaan Sarung Tangan Dunia Meningkat Signifikan

MEDAN — Larangan penggunaan sarung tangan polyvinyl chloride (PVC) oleh pemerintah China di negaranya berdampak positif atas pertumbuhan drastis konsumsi sarung tangan karet dunia di 2017 sebesar 19% dari rata-rata tahunan 10%.

Chief Executive Officer PT Mark Dynamics Indonesia (MDI) Ridwan Goh, mengungkapkan, larangan yang diberlakukan pada 2017 akan terus berdampak positif kepada seluruh produsen sarung tangan karet hingga produsen cetakan sarung tangan pada tahun-tahun selanjutnya.

“Konsumsi sarung tangan PVC di China mencapai 160 miliar pieces per tahun, kini mulai beralih ke sarung tangan karet. Pada tahun lalu dari proyeksi konsumsi sarung tangan karet 232 miliar pieces, realisasinya mencapai 250 miliar pieces,” ujar Ridwan Goh kepada Bisnis, Jumat (20/4).

Pemerintah China melarang penggunaan sarung tangan PVC akibat dampak kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.Dengan demikian, defisit kebutuhan sarung tangan karet dunia yang semula diprediksi sebesar 15 miliar pieces/tahun akan semakin membesar.

Malaysian Rubber Glove Manufacturer s Association (Margma) mengungkapkan produsen sarung tangan karet Malaysia yang menguasai 63% pasar dunia akan menaikkan kapasitas produksi sebesar 39 miliar pieces hingga 2020, sedangkan pertumbuhan konsumsi diproyeksi mencapai 54 miliar pieces.

Atas permintaan global yang tumbuh drastis, Ridwan  Goh  mengatakan konsumen MDI yang 70% berasal dari Malaysia telah meminta peningkatan pasokan cetakan sarung tangan yang sangat signifikan.

Hartalega misalnya, salah satu produsen sarung tangan terbesar Malaysia yang menjadi klien MDI telah menaikkan permintaan cetakan sarung tangan sebesar 10,5% untuk 2018 dan 28,5%pada 2019.

Atas permintaan yang meningkatkan drastis ini, lanjutnya, MDI tengah mempercepat implementasi otomasi di lini produksi. Pasalnya, program peningkatan kapasitas produksi saat ini baru mampu menaikkan produksi rata-rata 15,56% per tahun hingga 2022.

Panin Sekuritas dalam riset yang dikutip oleh Bisnis mengungkapkan, produk sarung tangan sangat diperlukan oleh industri kesehatan, sehingga MDImemiliki cukup ruang untukmenaikkan harga cetakan sarungtangan.

Selain itu, MDI memiliki potensi meningkatkan pangsa pasar cetakan sarung tangan di dalam negeri, seiring dengan pertumbuhan industri kesehatan yang pesat. Saat ini 95% hasil produksi perusahaan diekspor, sedangkan pasar lokal hanya menyerap 5%.

Ridwan Goh mengatakan, pada tahun ini kapasitas produksi perusahaan akan naik 28,57% menjadi 6,48 juta pieces/tahun dari 5,04 juta pieces pada 2017. Pada 2019 kapasitas produksi ditargetkan naik menjadi 7,56 juta pieces/tahun.

Seiring dengan peningkatan pemesanan, target penjualan pada 2018 diharapkan mencapai Rp310,55 miliar naik 30% dibandingkan kinerja tahun lalu yang mencapai Rp239,78 miliar. Seiring dengan itu, realisasi laba juga ditarget setiap tahun tumbuh minimal 30%.

Keunggulan perusahaan dibandingkan dengan kompetitor lain, ujar Ridwan Goh, adalah kemahiran dalam memproduksi cetakan sarung tangan nitrile. Sarung tangan nitrile memilikinilai jual yang tinggi ketimbang sarung tangan karet dan vinil.

“Untuk membuat cetakan sarung tangan nitrile dibutuhkanteknologi tinggi. Selain itu, cetakan kami mampu menghasilkan sarung tangan yang tipis dengan elastisi tastinggi, sehingga menekan cost penggunaan bahan baku para konsumen,” tuturnya.