MARK Targetkan Penjualan di 2021 Sebesar Rp 874 Miliar Seiring Dengan Meningkatnya Permintaan Cetakan Sarung Tangan

Medan, 26 November 2020 – Prospek Bisnis produsen cetakan sarung tangan kesehatan
berbasis porselen sangat besar dan menjanjikan untuk terus tumbuh. Hal ini dikarenakan
meningkatnya kesadaran masyarakat yang lebih tinggi akan pemakaian sarung tangan serta
diterapkannya protokol kesehatan yang lebih ketat dibandingkan sebelumnya di masa
pandemi Covid-19. Selain itu, adanya  larangan pemerintah China untuk menggunakan
sarung tangan berbasis PVC di China karena dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan
menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan bisnis ini.

Ridwan Goh, Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK), emiten yang
sahamnya tercatat di papan utama Bursa Efek Indonesia, yang bergerak dalam pembuatan
produk porselen cetakan sarung tangan menuturkan bahwa permintaan akan sarung tangan
kesehatan berada pada tingkat permintaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Dalam 10 tahun terakhir, tren permintaan sarung tangan konsisten bertumbuh 10% – 12% per
tahun, sedangkan ditengah kondisi pandemi Covid-19, permintaan melesat hingga 30%
sehingga industri sarung tangan tergoncang oleh ketidakseimbangan supply dan demand.
Permintaan akan sarung tangan melonjak tinggi, namun pasokan cetakan sarung tangan
sangat terbatas. Sebagai contoh, konsumsi sarung tangan per kapita di India telah meningkat
dari 4 unit menjadi 30 unit, yang mana permintaan tersebut telah melampaui pasokan di
wilayah tersebut.

Kondisi ini tentunya berdampak positif bagi MARK sebagai ±40% pemasok pasar global
cetakan sarung tangan karet dimana 95% dari penjualan Perseroan diserap oleh pasar ekspor
dan Malaysia merupakan pelanggan terbesar dengan komposisi sekitar 65% dari total
penjualan. Bahkan saat ini, MARK sudah mengantongi kontrak senilai US$52 juta untuk
pengapalan pada 2021. “Oleh karena itu MARK sudah mematok proyeksi penjualan pada
2021 sebesar Rp 874 miliar yaitu meningkat sebesar 72 % dibanding penjualan di tahun 2020
ini yang kami proyeksikan sebesar Rp 507 miliar dan proyeksi laba pada 2021 sebesar Rp
228 miliar yaitu meningkat sebesar 66% dibandingkan laba di tahun 2020 yang diproyeksikan
sebesar Rp 138 miliar’’ ujar Ridwan Goh dengan optimis .

Lonjakan permintaan sarung tangan saat pandemi membuat produsen cetakan sarung tangan
MARK tidak menunda lama untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Kapasitas produksi
Perseroan yang semula 700.000 unit per bulan di tahun 2020 tidak mencukupi permintaan
cetakan sarung tangan yang begitu agresif, sehingga  mulai kuartal III tahun 2020 Perseroan
meningkatkan kapasitasnya menjadi 800.000 unit per bulan.

Dengan naiknya permintaan pasar dan guna memenuhi permintaan yang selalu meningkat
tersebut, Perseroan pun berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksinya dengan
membangun pabrik baru kedua di desa Dalu, Tanjung Morawa yang estimasinya akan
rampung pada bulan Mei tahun 2021 sehingga kondisi ini akan menambah kapasitas produksi
MARK menjadi sekitar 1,1 juta unit per bulan pada tahun 2021 dan bahkan akan ditingkatkan
hingga mencapai 1,8 juta unit per bulan pada awal tahun 2022.


Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh menyampaikan bahwa untuk pembangunan pabrik
baru ini, MARK akan melakukan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp
150 miliar. Angka ini sudah mencakup biaya untuk mendirikan bangunan, pembelian mesin
serta instalasi mesin. Sumber dana yang dipakai Perseroan berasal dari kas dan kredit
perbankan

MARK sebagai produsen cetakan sarung tangan berbasis keramik menjadi emiten yang
memiliki keunggulan dalam kondisi saat ini. Harga saham emiten berkode MARK ini
melambung  92,47 % secara year to date (ytd) ke posisi Rp 870 per 31 Oktober 2020 dari
Rp 452 pada awal tahun ini.

“Melihat data tersebut, potensi bisnis MARK sangat besar dan terus menjanjikan” ujar
Ridwan Goh.