MARK Siap Capex Rp150 Miliar

MEDAN — PT Mark Dynamics Indonesia Tbk., emiten cetakan sarung tangan asal Sumatra Utara, menganggarkan belanja modal periode 2018—2020 senilai Rp150 miliar untuk pembangunan pabrik produk sanitari.

Ridwan Goh, Chief Executive Officer PT Mark Dynamics Indonesia Tbk., mengatakan kesepakatan dalam Rapat Umum Pemegang Saham 2018 belanja modal dibagi menjadi tiga tahap yakni Rp50 Miliar setiap tahun hingga 2020.

“Setiap tahun Rp50 Miliar untuk pembangunan pabrik sanitari yang memproduksi closet duduk dan jongkok. Saat ini kami sedang mencari lahan baru sekitar 10 hektare. Kelak pada 2020 kapasitas pabrik sanitari mencapai 30.000 unit/bulan,” ujarnya di Medan, Senin (30/4).

Berdasarkan riset internal, lanjutnya, pasar produk sanitari dalam negeri mengalami defisit pasokan 3 juta hingga 4 juta unit per tahun. Ke depannya, 20% bahan baku pada pabrik baru ini menggunakan material sisa dari pabrik cetakan sarung tangan dan 80% berasal dari dalam negeri.

Adapun kapasitas produksi pabrik cetakan sarung tangan yang terus digenjot hingga mencapai 12 juta unit pertahun dengan target pendapatan Rp1,1 triliun pada 2022 tetap menggunakan lahan yang lama.

Karena, lanjutnya, perluasan lahan pada pabrik yang lama telah dilakukan menggunakan sebagian dana hasil penawaran umum perdana saham senilai Rp13 miliar. Pada tahun ini kapasitas produksi pabrik cetakan sarung tangan naik 28,5% menjadi 6,48 juta unit/tahun dibandingkan tahun lalu.

Dalam RUPS tahunan dan RUPS Luar Biasa 2018, tuturnya, perusahaan juga memutuskan pembagian dividen sebesar 24,25% dari laba yang diraih pada 2017 atau senilai Rp11,4 miliar untuk para pemegang saham.

Adapun sebagian sisa laba ditahan akan digunakan untuk ekspansi pabrik sanitari yang baru. Sementara itu, sisa pembiayaan untuk pabrik sanitari akan menggunakan fasilitas pinjaman dari perbankan. Pedagang kaki lima (PKL) kembali menggelar lapak ditrotoar Jalan Jati Baru dan Pasar Tanah Abang Blok F.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Haryajid Ramelan mengatakan, pembagian dividen yang dilakukan oleh MARK menjadi sentimen positif dalam menjaga kepercayaan para pemegang saham. “Meskipun harga sahamnya telah naik sekitar 562% dalam waktu kurang dari 10 bulan setelah IPO, masih memiliki peluang naik dan menembus level Rp2.000 per lembar saham. Perusahaan ini cukup prospektif,” ujarnya.

Haryajid mengungkapkan, keputusan perusahaan dalam mencadangkan 75,75% laba bersih 2017 juga menjadi sentimen positif. Pasalnya, pencadangan laba bersih ini menjanjikan perusahaan terus berkembang dan ekspansi setiap tahunnya.

Selain itu, perusahaan juga relatif kebal dari fluktuasi nilai tukar. Pasalnya, 95% hasil produksi dijual kepasar ekspor. Perusahaan justru cenderung diuntungkan ketika nilai tukar rupiah tertekan terhadap dolar Amerika Serikat.

Reza Priyambada, Senior Analis PT Binaartha Parama Sekuritas, mengungkapkan bisnis utama yang dijalankan oleh MARK memiliki prospek pertumbuhan yang baik di masa depan. Apalagi MARK merupakan produsen cetakan sarung tangan satu-satunya di Indonesia.

“MARK produsen cetakan sarung tangan terbesar di dunia, pemain di bisnis ini sedikit. Namun, perlu menjadi catatan likuiditas pergerakan saham relatif rendah, mengingat porsi kepemilikan publik cukup rendah hanya sekitar 16%,” tuturnya. Oleh karena itu, lanjutnya, MARK perlu meningkatkan porsi kepemilikan saham di publik untuk menaikkan likuiditas. Peningkatan porsi tersebut dapat dilakukan melalui stock split ataupun rights issue.”