Mark Dynamics Indonesia (MARK) targetkan laba bersih sebesar Rp 100 miliar di 2019

PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) melihat permintaan sarung tangan karet global tumbuh konsisten dalam 15 tahun terakhir dengan rata-rata pertumbuhan permintaan tahunan antara 8% hingga 10%.

Di mana saat ini pasokan yang tersedia belum dapat memenuhi seluruh permintaan global, sehingga MARK melihatnya sebagai peluang untuk meningkatkan ekspansi bisnisnya di tahun ini.

Presiden Direktur MARK Ridwan Goh menyatakan kapasitas produksi empat produsen utama sarung tangan karet di Malaysia mencapai 169 miliar unit, sementara kebutuhan dunia pada tahun 2018 mencapai 268 miliar unit.

Ia melanjutkan bahwa sarung tangan karet merupakan produk yang hanya sekali pakai (disposable) dan banyak digunakan pada industri kesehatan, farmasi, makanan dan minuman, elektronik, industri, rumah tangga dan medis.

Luasnya bidang pemakaian sarung tangan karet mendorong industri pendukung utamanya, yaitu produsen cetakan sarung tangan memperoleh kesempatan besar untuk tumbuh dan berkembang secara pesat.

“Kami merupakan produsen cetakan sarung tangan terkemuka di dunia dan merupakan pemasok utama bagi produsen-produsen sarung tangan di dunia,” kata Ridwan kepada Kontan.co.id, Senin (22/4).

Ditambahkan Ridwan, pada tahun 2019 diperkirakan konsumsi sarung tangan karet dunia akan mencapai 300 miliar unit, dengan nilai pasar mencapai 4,8 miliar US Dollar atau setara dengan Rp 67,871 triliun (dengan kurs Rp 14.100/US Dollar).

Malaysia sebagai pemasok utama akan memberikan kontribusi sebesar 63%, diikuti oleh Thailand sebesar 18%, China sebesar 10% dan Indonesia sebesar 3%.

“Pasar sarung tangan karet dunia sangat menjanjikan mengingat konsumsi terbesar masih berasal dari negara-negara maju di Eropa dan Amerika, serta Jepang,” tambahnya.

Ia bilang, negara-negara Asia memiliki tingkat konsumsi yang relatif rendah, dari 30 negara pengguna terbesar, Tiongkok berada di posisi ke-28, Indonesia di posisi ke-29 dan India di posisi 30.

“Sehingga dengan semakin banyaknya negara yang berkembang disertai perhatian besar terhadap kesehatan akan mendorong peningkatan permintaan sarung tangan karet,” ungkap Ridwan.

Lebih lanjut, ia pun optimistis permintaan cetakan sarung tangan pun tidak akan mengalami penurunan mengingat untuk setiap cetakan masa pakai maksimum hanya satu tahun. Penggunaan cetakan dalam jangka panjang akan merusak kualitas sarung tangan yang diproduksi.

“MARK mengambil keuntungan dari kondisi ini dengan menggunakan bahan sisa cetakan sarung tangan untuk didaur ulang sebagai salah satu bahan baku produk sanitary ke depannya,” tambahnya.

Maka itu, Ridwan menyatakan bahwa MARK akan mengambil peran penting dalam pertumbuhan pasar yang menjanjikan pada produk sarung tangan karet.

Sebagai pemasok utama bagi produsen sarung tangan, dengan porsi ekspor terbesar ke Malaysia, kontribusi pertumbuhan pasar ini sudah dirasakan MARK.

Apalagi MARK tengah berupaya merampungkan pembangunan pabrik baru yang ditargetkan rampung di Mei 2019 ini. Kapasitas produksi pabrik baru tersebut sebesar 90.000 unit per bulan dengan Overall Equipment Effectiveness (OEE) sekitar 90% yakni sekitar 80.000 unit per bulan.

Kehadiran pabrik tersebut akan mengerek total kemampuan produksi MARK dari saat ini 540.000 unit per bulan, menjadi 620.000 per unit per bulan di 2019, setelah pabrik baru resmi beroperasi.

Adapun jumlah produksi cetakan sarung tangan MARK pada tahun 2018 mencapai 6,4 juta unit atau meningkat sebesar 28% dibandingkan dengan 5 juta unit pada tahun 2017. Dan di 2019 diharapkan tumbuh 12,5%. “Untuk 2019, diproyeksikan volume produksi MARK akan mencapai 7,2 juta unit,” ungkap Ridwan.

Dari sisi kinerja keuangan, MARK mematok target pendapatan sekitar Rp 361,27 miliar hingga Rp 364,52 miliar atau tumbuh 11% hingga 12% dibanding pendapatan di 2018.

“Target yang dipatok demikian karena mengingat kurs Rupiah yang semakin menguat di mana penjualan kita 90% ekspor sehingga laba selisih kurs kali ini lebih konservatif,” jelas Ridwan.

Sementara dari sisi laba bersih, Ridwan juga mengharapkan naik sekitar 21,5% atau mencapai Rp 100 miliar di 2019. “Sampai kuartal I 2019, kita masih on track,” tambah dia.

Sebagai info, penjualan MARK naik sebesar 35,7% pada tahun 2018 menjadi Rp 325,47 miliar dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar Rp 239,79 miliar. Pasar ekspor mencapai Rp 303,33 miliar atau sebesar 93,20% dari total penjualan MARK.

Diiringi dengan tingkat biaya yang lebih rendah pada tahun 2018, MARK berhasil mencatat kenaikan laba bersih sebesar 75% menjadi Rp 82,29 miliar, dibandingkan tahun 2017 sebesar Rp 47,05 miliar.