Mark Dynamics Bukukan Laba Bersih Rp 65,49 Miliar

PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK), berhasil memperoleh laba bersih pada kuartal III-2019 sebesar Rp 65,49 miliar, atau meningkat sebesar 11,32 persen jika dibandingkan dengan kuartal III tahun 2018 sebesar Rp 58,83 miliar. Peningkatan laba ini sejalan dengan peningkatan penjualan sebesar 11,13 persen menjadi Rp 267,21 miliar.

Presiden Direktur Mark Dynamics, Ridwan Goh, mengatakan, pencapaian yang diraih oleh perseroan tidak terlepas dari dari keberhasilan perseroan menjaga tingkat efisiensi seraya mempertahankan kualitas produk sesuai dengan permintaan pelanggan.

“Hal ini dilihat dari tercapainya margin laba kotor sebesar 44,18 persen dengan nilai sebesar Rp 118,04 miliar. Nilai ini lebih baik dari pencapaian perseroan pada periode yang sama di tahun sebelumnya dengan pencapaian margin laba kotor sebesar 43,61 persen dengan nilai sebesar Rp 104,85 miliar,” ujar Ridwan Goh, dalam keterangan pers yang diterima

Ridwan menjelaskan, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok juga memberi berkah bagi industri sarung tangan karet, dimana kenaikan tarif impor yang diberlakukan AS kepada produk Tiongkok dari 10 persen menjadi 25 persen efektif per 1 September 2019.

Hal ini membuat industri sarung tangan karet berpotensi menggeser pasar sarung tangan Vinyl dan Nitrile produksi Tiongkok yang saat ini menguasai 44 persen impor sarung ke AS.

Saat ini, perusahaan pemasok sarung tangan terbesar secara global adalah negara Malaysia dengan 63 persen, diikuti Thailand dengan 18 persen, Tiongkok 10 persen dan kontribusi langsung Indonesia hanya 3 persen.

“Pemasok utama sarung tangan AS akan bergeser dari Tiongkok ke Malaysia sebagai produsen sarung tangan karet terbesar di dunia. Secara tidak langsung hal ini akan menjadi sinyal positif bagi kinerja Perseroan,” kata Ridwan.

Pertumbuhan kinerja operasional yang dicapai perseroan pada kuartal III tahun 2019 berjalan seiring dengan peningkatan kinerja keuangan dimana total aset perseroan meningkat sebesar 36,09 persen menjadi Rp 432,86 miliar per 30 September 2019 dibandingkan dengan Rp 318,08 miliar per 31 Desember 2018.

Aset lancar mengalami peningkatan sebesar 43,53 persen dengan nilai sebesar Rp 232,73 miliar per 30 September 2019 dibandingkan dengan Rp 162,14 miliar per 31 Desember 2018.

Sementara peningkatan aset tidak lancar sebesar 28,35 persen dengan nilai Rp 200,13 miliar per 30 September 2019 jika dibandingkan dengan Rp 155,93 miliar per 31 Desember 2018.