Mark Dynamics Akan Bangun Pabrik Baru Untuk Genjot Kapasitas Produksi

Tanjung Morawa, 10 Oktober 2020 – PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK”), emiten
yang bergerak dalam pembuatan produk porselen cetakan sarung tangan seperti yang kita ketahui
telah mengantongi kontrak penjualan sebesar US$ 44 juta untuk pengapalan di tahun 2021.
Permintaan sarung tangan global memang terus meningkat di era pandemi Covid-19 ini, hal ini
menjadi pemicu bagi perseroan untuk terus melakukan ekspansi kapasitas cetakan sarung
tangannya. Dengan telah terpenuhinya target kapasitas maksimum di pabrik perseroan yang
berlokasi di desa Dalu, Tanjung Morawa, maka perseroan akan menambah kapasitas produksi
perseroan di tahun 2021 menjadi sekitar 1,4 juta unit per bulan dan akan ditingkatkan secara
progresif sampai 1,8 juta unit per bulan pada awal tahun 2022.

Maka kembali perseroan akan mengangggarkan belanja modal (capex) sebesar Rp 150 miliar di
tahun 2021. Adapun tambahan dana belanja modal nanti untuk membangun pabrik baru dan
membeli mesin produksi cetakan sarung tangan. Keputusan Mark Dynamics mengacu
pada  prospek kebutuhan sarung tangan kesehatan global yang kemungkinan akan terus
meningkat.

Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk, Ridwan Goh, yang baru-baru ini
memenangkan penghargaan Rising Star CEO dari IDX Channel Anugrah Inovasi Indonesia,
kembali mengatakan, ”profil pembeli atau pelanggan baru selain pelanggan utama kami yang di
Malaysia, pada kontrak kontrak mendatang terdiri atas produsen sarung tangan di sejumlah
negara seperti di China, Thailand, Vietnam, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat. Dan
permintaan terus mengalir sampai saat ini dengan waktu pengapalan sampai tahun 2022 awal dan
untuk mengurangi waktu pengapalan yang terlalu lama, kami memutuskan membangun pabrik
baru kedua di lahan pabrik baru kami dengan luas ±9 Ha yang berada di desa Dalu Tanjung
Morawa” .

Informasi saja, penjualan ekspor Mark Dynamics ke Malaysia sempat turun di kuartal II karena
kebijakan lock down Pemerintah Malaysia. Beruntung, penurunan itu bisa diimbangi Perseroan
dengan peningkatan permintaan cetakan sarung tangan dari China dan beberapa negara lainnya.
Alhasil, pada awal kuartal II 2020 perseroan mampu mencetak kenaikan penjualan 12% year on
year (yoy).

Sumber pendanaan capex tambahan berasal baik dari kas internal perusahaan maupun fasilitas
perbankan. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli dan menambah lini serta mesin-mesin
produksi di pabrik baru.

Dengan asumsi volume produksi sebanyak 15 juta unit cetakan sarung tangan di tahun 2021,
Ridwan memproyeksikan perusahaan mampu mengantongi sales revenue hingga sekitar Rp 780
miliar pada tahun depan dengan proyeksi laba bersih sebesar Rp 220 miliar. Angka tersebut jauh
melampaui volume penjualan MARK di tahun 2019 maupun proyeksi penjualan MARK pada
tahun 2020 ini.

Sepanjang Januari – Juni 2020 lalu, penjualan MARK tercatat sebesar Rp 192,62 miliar, tumbuh
9,57% dibanding penjualan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 175,80 miliar. Sementara
itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih
perusahaan tercatat tumbuh 14,63% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari semula Rp 45,11
miliar di semester I 2019 menjadi Rp 51,71 miliar di semester I 2020.

Penjualan MARK tercatat sebesar Rp 361,54 miliar di tahun 2019. Sementara itu, pada awal
tahun ini, MARK membidik target penjualan dengan kenaikan sebesar 15% dibanding tahun lalu
atau setara dengan kurang lebih Rp 415,77 miliar dan kenaikan laba bersih sebesar 15%  atau
setara dengan Rp 100 miliar. Namun Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh, yakin bahwa
perseroan akan berhasil melampaui target penjualan dan laba sampai akhir tahun 2020 ini.
Perseroan memproyeksikan kenaikan laba bersih pada akhir tahun 2020 sebesar Rp 110 miliar
dan penjualan sampai akhir tahun mengalami kenaikan sebesar 10% menjadi Rp 440 miliar.