Fluktuasi Nilai Tukar Untungkan MARK

MEDAN — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berdampak positif terhadap kinerja keuangan PT Mark Dynamics Indonesia Tbk., yang 95% hasil produksinya di ekspor ke berbagai negara.

Ridwan Goh, Chief Executive Officer PT Mark Dynamics Indonesia Tbk. (MARK), mengatakan pelemahan nilai tukar akan memperbesar laba selisih kurs, seiring seluruh aktivitas produksi yang menggunakan rupiah.

“Bahan baku utama memang impor, tetapi di luar itu semuanya menggunakan rupiah. Tenaga kerja, listrik, material lain dalam rupiah. Jika rupiah berada di level Rp14.000 terhadap dolar AS, maka laba kurs akan lebih tinggi dibandingkan tahun lalu,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (3/5).

Adapun harga bahan baku yang berpotensi ikut naik, lanjutnya, perusahaan memiliki ruang negosiasi penurunan harga beli kepada pemasok. Hal ini telah disepakati bersama untuk menjaga kestabilan harga bahan baku. Untuk menjaga kestabilan pasokan bahan baku, perusahaan menjalankan standar operasional prosedur minimum stok 4—6 bulan ke depan. Dengan demikian, situasi ekonomi global yang tidak menentu tidak berdampak signifikan terhadap perusahaan.

Bahkan, lanjutnya, saat ini perusahaan telah mendapatkan satu klien baru asal Malaysia yang berstatus salah satu produsen sarung tangan terbesar di dunia. Selain itu, MARK juga mendapatkan penawaran dari satu perusahaan asal Brasil.

“Kami tengah melakukan riset bersama dengan klien baru asal Malaysia untuk menemukan spesifikasi produk cetakan sarung tangan yang mereka butuhkan. Kami tidak bisa pasok pada tahun ini, karena selisih antara supply and demand mencapai 38%,” tuturnya.

Dengan demikian, ujarnya, program peningkatan kapasitas produksi tahun ini yang mencapai 28,57% dapat memenuhi permintaan dari klien baru pada tahun DESTINASI WISATA BARU depan. Secara rata-rata hingga 2022 kapasitas produksi MARK diprogramkan naik 15,56%.
Fluktuasi nilai tukar ataupun krisis ekonomi dunia, lanjut Ridwan, tidak berdampak pada konsumsi sarung tangan dunia.Pasalnya, tidak ada satu pun negara di dunia yang memangkas anggaran kesehatan secara signifikan ketika mengalami krisis ekonomi.

Hans Kwee, Direktur PT Investa Saran Mandiri mengatakan, MARK sebagai market leader cetakan sarung tangan di dunia memiliki kinerja yang baik dan mampu meraih rata-rata pertumbuhan laba sebesar 29% secara tahunan.

“Perusahaan yang fokus pada pasar ekspor diuntungkan oleh penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah. Perusahaanjuga tidak memiliki kompetitor di dalam negeri, sementara pemain besar lain di luar negeri,”ujarnya.

Saat ini, lanjut Hans, hanya terdapat 10 perusahaan sejenis MARK di dunia. Fundamental yang baik juga

terlihat dari target perusahaan menguasai 55% pangsa pasar cetakan sarung tangan dunia pada 2022.

Reza Priyambada, Analis Senior PT Binaartha Parama Sekuritas, mengatakan MARK yang melakukan transaksi

pembelian bahan baku dalam bentuk dolar  Amerika Serikat dan penjualan produk juga dalam dolar Amerika tidak

terdampak pelemahan nilai tukar rupiah.

“Karakter perusahaan seperti ini hanya fokus meningkatkan kapasitas produksi setiap tahun. Dalam laporan

keuangan tidak disebutkan laba-rugi kurs, karena mereka tidak meng-convert pendapatannya ke rupiah, sehingga

perusahaan ini stabil,” tuturnya.

Bisnis yang dijalankan oleh MARK, lanjutnya, memiliki prospek yang cerah. Pasalnya, industri ini terkait

langsung dengan siklus kehidupan manusia. Produk sarung tangan menjadi kebutuhan tetap di industri farmasi dan

kesehatan.

“Kebutuhan sarung tangan akan terus tumbuh, tetapi perlu diwaspadai jika muncul pemain baru pada industri ini.

MARK perlu menjaga loyalitas konsumen untuk  menjamin pertumbuhan perusahaan setiap tahun,” tuturnya.

Berdasarkan laporan keuangan, pendapatan MARK per Maret 2018 naik 54,97% year-to-year menjadi Rp78,47 miliar

dari sebelumnya Rp50,64 miliar. Adapun laba bersih melonjak 227% yoy senilai Rp18,04 miliar dibandingkan

kuartal I/2017 senilai Rp5,52 miliar.

Perusahaan menargetkan pendapatan pada tahun ini senilai Rp310,55 miliar dengan laba bersih sebesar Rp64,75

miliar.Setiap tahun perusahaan menargetkan pertumbuhan pendapatan rata-rata 30%, sehingga pada 2022 target

pendapatan mencapai Rp1,1 triliun dengan laba bersih Rp185,24 miliar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *