Langka dan Berkualitas, Produk Mark Dynamics Ditawar 50% Lebih Mahal

Deli Serdang, 26 Desember 2020 – Dalam kondisi sulit seperti ini, tidak dipungkiri
bahwa banyak perusahaan yang membukukan penurunan omset yang drastis. Terlebih lagi,
terjadi kebijakan lockdown beberapa kali diseluruh penjuru dunia yang mengakibatkan
berhentinya bisnis untuk jangka waktu yang cukup lama. Akan tetapi, Mark Dynamics,
perusahaan cetakan sarung tangan yang berdomisili di Sumatera Utara, malah kecipratan
permintaan. Perusahaan sedang menggenjot kapasitas produksi untuk melayani permintaan
baru yang memberikan penawaran harga yang memukau.

Di awal pandemi, Mark sendiri memang mengalami sedikit kesulitan yang diakibatkan
oleh kebijakan lockdown yang diterapkan diseluruh dunia, terutama di Malaysia. Ridwan Goh
selaku CEO pun membenarkan hal tersebut. “Kebetulan 65% penjualan kami menuju ke
Malaysia karena mereka adalah produsen sarung tangan terbesar di dunia”, ujarnya.
“Kebijakan lockdown tersebut memang membuat supply chain sangat terganggu di semester
pertama. Tetapi setelah dilonggarkan, bisnis kami pun sudah berjalan normal dan bahkan
permintaan akan produk kami melesat tinggi.”. Menjawab hal tersebut, Ridwan pun
mengambil keputusan untuk menambah kapasitas sebanyak 100ribu pcs/bulan pada
pertengahan tahun 2020.

Tetapi, peningkatan kapasitas produksi tersebut masih belum cukup. Faktanya,
permintaan akan cetakan sarung tangan berada di level tertinggi dalam sejarah, melampaui
lonjakan permintaan di tahun 2009 dimana terjadi wabah pandemi H1N1. Melihat hal
tersebut, Ridwan memutuskan untuk melakukan ekspansi lagi dengan tambahan kapasitas
sebesar 600ribu pcs/bulan. Groundbreaking pun sudah dilakukan di awal Desember 2020 ini
dan pabrik baru yang akan mampu mencetak total 1.4juta pcs/bulan ini direncanakan
rampung di akhir kuartal I 2021.

Ridwan mengatakan bahwa saking tingginya permintaan, banyak perusahaan sarung
tangan menawarkan untuk membayar lebih mahal agar bisa mendapatkan produk Mark
terlebih dahulu. Padahal, hingga saat ini, banyak pelanggan baru telah rela membayar down
payment untuk mendapatkan reservasi. “Ya, barusan saja ada beberapa perusahaan yang mau
membayar 50% lebih mahal untuk produk kami agar didahulukan. Ini menunjukkan tingginya
kualitas produk kami disaat kekurangan supply dalam pasar,” ujar pemenang Rising Star
CEO dua kali di tahun 2020 ini. “Tetapi kami tetap menjaga integritas untuk selalu
memprioritaskan existing clients kami. Kami sadar sepenuhnya bahwa merekalah yang telah
mempercayai kami sejak penjualan masih kecil.”

Mark sendiri adalah penguasa pasar global untuk cetakan sarung tangan. Per tahun 2020,
diperkirakan bahwa Mark telah mencakup market share sebesar 45% dengan kapasitas
produksi sekarang sebanyak 800rb pcs/bulan. Kualitas produk Mark tentunya tidak diragukan
lagi. Pelanggan setia Mark sampai saat ini adalah beberapa pemain utama produsen sarung
tangan di panggung internasional, yakni Hartalega, Top Gloves, Kossan, dan Sri Tang.
Berkat pandemi, Mark berhasil melebarkan sayapnya sampai Tiongkok, mendapatkan
kepercayaan dari pemain-pemain besar juga seperti Intco, Zhong Hong Pu Lin, dan BlueSail.
Selama 2020, Mark memang telah menaikkan average selling price (ASP) setidaknya
15%. Hal ini disebabkan oleh tingginya permintaan yang bertolak belakang dengan
pasokannya. Sebagai informasi, permintaan cetakan sarung tangan global di tahun ini
melonjak lebih dari 100% dimana supply seluruh dunia hanya naik lebih kurang 30%. Ini
menjawab kenapa harga rata-rata penjualan Mark Dynamics naik di tahun pandemi ini.

Dorongan permintaan tersebut juga tercerminkan pada harga saham Mark Dynamics
(IDX: MARK). Dengan posisi neraca yang kuat dan didukung oleh kenaikan sales secara
YoY sebanyak 27%, saham MARK telah naik lebih kurang 126% dari awal tahun hingga saat
ini (ytd). Ini menunjukkan optimisme investor terhadap kinerja spektakuler Mark yang
diperkirakan akan semakin baik di tahun mendatang, mempertimbangkan rampungnya pabrik
baru di kuartal I 2021.

Porselen Cetakan Sarung Tangan Berkilap-kilap di Tengah Resesi

Deli Serdang, 17 Desember 2020 – Dengan tema resilience in pandemic dalam Bisnis
Indonesia Award 2020, PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) menyandang dua
penghargaan prestisius sekaligus yaitu The Most Promising Company in Basic Industry and
Chemicals dan Rising Star CEO yang diberikan khusus untuk Ridwan Goh selaku CEO MDI.

Dengan produksi sebanyak 800 ribu pcs per bulan, Mark adalah produsen cetakan sarung
tangan berbahan porselen terbesar di dunia yang berdomisili di Sumatera Utara. Bisnis unik
yang digeluti membuat Mark menjadi satu-satunya pemain domestik. Tetapi itu tidak
membuat Mark menjadi spesial. Perusahaan cetakan sarung tangan ini harus bersaing ketat di
panggung internasional. Mengingat produsen sarung tangan terbesar di dunia adalah
Malaysia, kompetitor Mark juga banyak yang berdomisili di Malaysia.

Rata-rata perusahaan khusus cetakan sarung tangan di Malaysia hanya mempunyai
kapasitas produksi 70-200 ribu pcs/bulan. Sebagai contoh, Vaytech Ceramic Formers Sdn.
Bhd yang berlokasi di Selangor, Malaysia memiliki kapasitas terinstalasi sebesar 70 ribu
pcs/bulan. Perusahaan Jepang yang beroperasi di Malaysia, SHINKO Ceramics (M) Sdn Bhd,
dapat memproduksi sebanyak 200 ribu pcs/bulan. Angka-angka ini menunjukkan seberapa
dominan posisi Mark di pasar internasional.

Di masa kesulitan ini, Mark malah berhasil terus membukukan kenaikan total penjualan
hingga Rp 345M sampai kuartal III 2020, pertumbuhan sebesar 29% dari periode yang sama
tahun sebelumnya. Marjin laba kotor sebesar 43% ini menunjukkan seberapa efisien Mark
dalam menjalankan bisnis. Dengan angka tersebut, Mark merupakan salah satu perusahaan
dengan Marjin kotor tertinggi di Industri Dasar dan Kimia. Laba bersih perseroan kuartal III
yang sebesar Rp 90M, diproyeksi akan menembus angka Rp 130M di akhir tahun ini.

Terlebih lagi, disaat banyak perusahaan sangat konservatif untuk bertahan hidup, Mark
sendiri akan menggelontorkan lebih kurang Rp 200M untuk pembangunan pabrik baru kedua
diatas lahan sekitar 9 hektar di Dalu Sepuluh, Tanjong Morawa. Konstruksi telah dimulai di
awal Desember 2020 dan diperkirakan akan rampung di kuartal III 2021. Ridwan percaya
bahwa ekspansi ini akan membawa Mark semakin terdepan di industri cetakan sarung tangan.
“Kami menargetkan untuk mencapai total kapasitas produksi sebanyak 1,4 juta pcs/bulan
mulai dari paruh kedua tahun depan”, ungkapnya. Ini semua menjustifikasi dengan jelas
kenapa penghargaan prestisius The Most Promising Company in Basic Industry and
Chemicals secara khusus diberikan kepada Mark dalam acara Bisnis Indonesia Award 2020.

Pencapaian luar biasa tersebut pastinya tidak lepas dari tangan dingin seorang Ridwan
Goh yang menjabat sebagai CEO. Ridwan sendiri telah meniti karir di Mark Dynamics
selama 12 tahun. Dimulai dari Marketing Manager, Ridwan didorong untuk mendongkrak
penjualan perusahaan yang saat itu masih sangat kecil. Dengan pertumbuhan yang kencang,
Ridwan kemudian di promosikan sebagai General Manager dan ditargetkan untuk melakukan
efisiensi besar-besaran. Hasil kerja keras tersebut membawa beliau untuk menduduki jataban
sebagai orang nomor satu di perusahaan pada tahun 2018. Dengan pertumbuhan penjualan
sekitar 20% per tahun dalam 10 tahun dan beroperasi dengan marjin laba kotor 43%, ini
menunjukkan kepiawaian Ridwan dalam memimpin perusahaan.

Mengetahui perusahaan dipimpin oleh CEO millennial yang memiliki segudang pencapaian
ini, para investor pun sumringah telah berinvestasi di saham MARK yang IPO di 2017.
Bagaimana tidak, saham MARK sendiri hingga saat ini telah naik setidaknya 1000% sejak
IPO. Warren Buffett, investor tersukses di dunia, selalu menekankan pentingnya berinvestasi
pada perusahaan luar biasa yang dikelola oleh manajemen yang berkompeten di bidangnya
dan berintegritas. Menoreh penghargaan Rising Star CEO dalam acara Bisnis Indonesia
Award 2020 adalah sebuah pencapaian yang pantas dibanggakan oleh seorang Ridwan Goh
yang pada tahun ini terpilih sebagai ketua Asosiasi Emiten Indonesia Sumatera Utara.
Tidak hanya penghargaan tersebut mencerminkan kompetensi beliau, tetapi jauh lebih penting
adalah integritas menjadi seorang pemimpin. “Saya tentunya senang diberikan penghargaan
ini. Saya juga ingin memberikan apresiasi tertinggi saya kepada semua rekan kerja yang telah
membantu dan mendukung saya sampai sekarang. Perlu diingat, Mark Dynamics bukanlah
one man team, semua hasil ini adalah kerja keras bersama untuk memberikan hasil yang
memuaskan kepada seluruh stakeholders”, ungkap CEO berusia 37 tahun tersebut. Ini bukan
kali pertama Ridwan menerima penghargaan Rising Star CEO. Di awal tahun ini, beliau juga
menerima penghargaan yang sama dalam acara IDX Channel Innovation Award 2020.

MARK Targetkan Penjualan di 2021 Sebesar Rp 874 Miliar Seiring Dengan Meningkatnya Permintaan Cetakan Sarung Tangan

Medan, 26 November 2020 – Prospek Bisnis produsen cetakan sarung tangan kesehatan
berbasis porselen sangat besar dan menjanjikan untuk terus tumbuh. Hal ini dikarenakan
meningkatnya kesadaran masyarakat yang lebih tinggi akan pemakaian sarung tangan serta
diterapkannya protokol kesehatan yang lebih ketat dibandingkan sebelumnya di masa
pandemi Covid-19. Selain itu, adanya  larangan pemerintah China untuk menggunakan
sarung tangan berbasis PVC di China karena dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkan
menjadi salah satu faktor yang menumbuhkan bisnis ini.

Ridwan Goh, Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK), emiten yang
sahamnya tercatat di papan utama Bursa Efek Indonesia, yang bergerak dalam pembuatan
produk porselen cetakan sarung tangan menuturkan bahwa permintaan akan sarung tangan
kesehatan berada pada tingkat permintaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Dalam 10 tahun terakhir, tren permintaan sarung tangan konsisten bertumbuh 10% – 12% per
tahun, sedangkan ditengah kondisi pandemi Covid-19, permintaan melesat hingga 30%
sehingga industri sarung tangan tergoncang oleh ketidakseimbangan supply dan demand.
Permintaan akan sarung tangan melonjak tinggi, namun pasokan cetakan sarung tangan
sangat terbatas. Sebagai contoh, konsumsi sarung tangan per kapita di India telah meningkat
dari 4 unit menjadi 30 unit, yang mana permintaan tersebut telah melampaui pasokan di
wilayah tersebut.

Kondisi ini tentunya berdampak positif bagi MARK sebagai ±40% pemasok pasar global
cetakan sarung tangan karet dimana 95% dari penjualan Perseroan diserap oleh pasar ekspor
dan Malaysia merupakan pelanggan terbesar dengan komposisi sekitar 65% dari total
penjualan. Bahkan saat ini, MARK sudah mengantongi kontrak senilai US$52 juta untuk
pengapalan pada 2021. “Oleh karena itu MARK sudah mematok proyeksi penjualan pada
2021 sebesar Rp 874 miliar yaitu meningkat sebesar 72 % dibanding penjualan di tahun 2020
ini yang kami proyeksikan sebesar Rp 507 miliar dan proyeksi laba pada 2021 sebesar Rp
228 miliar yaitu meningkat sebesar 66% dibandingkan laba di tahun 2020 yang diproyeksikan
sebesar Rp 138 miliar’’ ujar Ridwan Goh dengan optimis .

Lonjakan permintaan sarung tangan saat pandemi membuat produsen cetakan sarung tangan
MARK tidak menunda lama untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Kapasitas produksi
Perseroan yang semula 700.000 unit per bulan di tahun 2020 tidak mencukupi permintaan
cetakan sarung tangan yang begitu agresif, sehingga  mulai kuartal III tahun 2020 Perseroan
meningkatkan kapasitasnya menjadi 800.000 unit per bulan.

Dengan naiknya permintaan pasar dan guna memenuhi permintaan yang selalu meningkat
tersebut, Perseroan pun berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksinya dengan
membangun pabrik baru kedua di desa Dalu, Tanjung Morawa yang estimasinya akan
rampung pada bulan Mei tahun 2021 sehingga kondisi ini akan menambah kapasitas produksi
MARK menjadi sekitar 1,1 juta unit per bulan pada tahun 2021 dan bahkan akan ditingkatkan
hingga mencapai 1,8 juta unit per bulan pada awal tahun 2022.


Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh menyampaikan bahwa untuk pembangunan pabrik
baru ini, MARK akan melakukan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp
150 miliar. Angka ini sudah mencakup biaya untuk mendirikan bangunan, pembelian mesin
serta instalasi mesin. Sumber dana yang dipakai Perseroan berasal dari kas dan kredit
perbankan

MARK sebagai produsen cetakan sarung tangan berbasis keramik menjadi emiten yang
memiliki keunggulan dalam kondisi saat ini. Harga saham emiten berkode MARK ini
melambung  92,47 % secara year to date (ytd) ke posisi Rp 870 per 31 Oktober 2020 dari
Rp 452 pada awal tahun ini.

“Melihat data tersebut, potensi bisnis MARK sangat besar dan terus menjanjikan” ujar
Ridwan Goh.

PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) Menyalurkan Dana CSR untuk Program Bedah Rumah Layak Huni Tahun 2020

Deli Serdang, 15 Oktober 2020 – PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK”), emiten
produsen cetakan sarung tangan yang berlokasi di Kawasan Industri Medan Star, Deli
Serdang, Sumatera Utara kembali menyalurkan dana CSR untuk program bedah rumah layak
huni di kabupaten Deli Serdang tahun 2020 sebesar Rp 100.000.000,-. Perseroan telah
berpartisipasi dalam program ini selama tiga tahun berturut-turut untuk membangun
kesadaran masyarakat akan kesehatan.

Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh memberikan langsung bantuan CSR tersebut secara
simbolik kepada Bupati Deli Serdang, Bpk. Ashari Tambunan. Pada kesempatan kali ini,
Bupati Deli Serdang menyampaikan bahwa beberapa program pemkab Deli Serdang, antara
lain: Program Cerdas, Opung Sari Basah Bang, Mesra Bertuah dan Mewujudkan Desa Satu
dari Dinas Pendidikan Pemkab Deliserdang terpilih sebagai top 45 Pelayanan Publik tahun
2020 pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) di lingkungan kementerian/lembaga,
pemerintah daerah, BUMN dan BUMD. “Keberhasilan PemKab Deli Serdang ini tidak
terlepas dari dukungan sektor swasta dimana dalam menjalankan program ini, pemerintah
membangun pendidikan dengan mensinergikan tiga pilar kekuatan yaitu pemerintah,
masyarakat dan sektor swasta.”, ungkap Bpk. Ashari Tambunan.
Bupati Deli Serdang memberikan apresiasi yang tinggi kepada PT Mark Dynamics Indonesia
Tbk sebagai sektor swasta yang telah berkomitmen membantu Pemkab Deli Serdang dalam
mengubah mindset masyarakat, khususnya kepada Bpk. Ridwan Goh sebagai Presiden
Direktur MARK.

“Ditengah situasi pandemi yang sulit saat ini, dimana banyak perusahaan yang melesu dan
mengurangi karyawannya, MARK justru sedang melakukan ekspansi perusahaan dan telah
menyerap banyak tenaga kerja sehingga total tenaga kerja Perseroan mencapai lebih dari
1,800 tenaga kerja.”, ungkap Bpk Ashari Tambunan.

Dalam ramah tamah antara Bupati dan Presdir MARK di Kantor Bupati Deli Serdang, Bupati
juga menanyakan apakah ada karyawan MARK yang terpapar Covid-19. Presdir MARK
mengatakan sejauh ini belum ada. “Selain penerapan protokol kesehatan di lingkungan kerja,
seperti memakai masker, pengukuran suhu sebelum memasuki area kerja, rajin mencuci
tangan, dan physical distancing, kita selalu mengedukasi karyawan kita agar tidak perlu
keluar rumah jika tidak ada hal yang urgent dan agar selalu menghindari kerumunan.”, jelas
Ridwan.

Mark Dynamics Akan Bangun Pabrik Baru Untuk Genjot Kapasitas Produksi

Tanjung Morawa, 10 Oktober 2020 – PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK”), emiten
yang bergerak dalam pembuatan produk porselen cetakan sarung tangan seperti yang kita ketahui
telah mengantongi kontrak penjualan sebesar US$ 44 juta untuk pengapalan di tahun 2021.
Permintaan sarung tangan global memang terus meningkat di era pandemi Covid-19 ini, hal ini
menjadi pemicu bagi perseroan untuk terus melakukan ekspansi kapasitas cetakan sarung
tangannya. Dengan telah terpenuhinya target kapasitas maksimum di pabrik perseroan yang
berlokasi di desa Dalu, Tanjung Morawa, maka perseroan akan menambah kapasitas produksi
perseroan di tahun 2021 menjadi sekitar 1,4 juta unit per bulan dan akan ditingkatkan secara
progresif sampai 1,8 juta unit per bulan pada awal tahun 2022.

Maka kembali perseroan akan mengangggarkan belanja modal (capex) sebesar Rp 150 miliar di
tahun 2021. Adapun tambahan dana belanja modal nanti untuk membangun pabrik baru dan
membeli mesin produksi cetakan sarung tangan. Keputusan Mark Dynamics mengacu
pada  prospek kebutuhan sarung tangan kesehatan global yang kemungkinan akan terus
meningkat.

Presiden Direktur PT Mark Dynamics Indonesia Tbk, Ridwan Goh, yang baru-baru ini
memenangkan penghargaan Rising Star CEO dari IDX Channel Anugrah Inovasi Indonesia,
kembali mengatakan, ”profil pembeli atau pelanggan baru selain pelanggan utama kami yang di
Malaysia, pada kontrak kontrak mendatang terdiri atas produsen sarung tangan di sejumlah
negara seperti di China, Thailand, Vietnam, Afrika Selatan, dan Amerika Serikat. Dan
permintaan terus mengalir sampai saat ini dengan waktu pengapalan sampai tahun 2022 awal dan
untuk mengurangi waktu pengapalan yang terlalu lama, kami memutuskan membangun pabrik
baru kedua di lahan pabrik baru kami dengan luas ±9 Ha yang berada di desa Dalu Tanjung
Morawa” .

Informasi saja, penjualan ekspor Mark Dynamics ke Malaysia sempat turun di kuartal II karena
kebijakan lock down Pemerintah Malaysia. Beruntung, penurunan itu bisa diimbangi Perseroan
dengan peningkatan permintaan cetakan sarung tangan dari China dan beberapa negara lainnya.
Alhasil, pada awal kuartal II 2020 perseroan mampu mencetak kenaikan penjualan 12% year on
year (yoy).

Sumber pendanaan capex tambahan berasal baik dari kas internal perusahaan maupun fasilitas
perbankan. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli dan menambah lini serta mesin-mesin
produksi di pabrik baru.

Dengan asumsi volume produksi sebanyak 15 juta unit cetakan sarung tangan di tahun 2021,
Ridwan memproyeksikan perusahaan mampu mengantongi sales revenue hingga sekitar Rp 780
miliar pada tahun depan dengan proyeksi laba bersih sebesar Rp 220 miliar. Angka tersebut jauh
melampaui volume penjualan MARK di tahun 2019 maupun proyeksi penjualan MARK pada
tahun 2020 ini.

Sepanjang Januari – Juni 2020 lalu, penjualan MARK tercatat sebesar Rp 192,62 miliar, tumbuh
9,57% dibanding penjualan periode sama tahun lalu yang mencapai Rp 175,80 miliar. Sementara
itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih
perusahaan tercatat tumbuh 14,63% secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari semula Rp 45,11
miliar di semester I 2019 menjadi Rp 51,71 miliar di semester I 2020.

Penjualan MARK tercatat sebesar Rp 361,54 miliar di tahun 2019. Sementara itu, pada awal
tahun ini, MARK membidik target penjualan dengan kenaikan sebesar 15% dibanding tahun lalu
atau setara dengan kurang lebih Rp 415,77 miliar dan kenaikan laba bersih sebesar 15%  atau
setara dengan Rp 100 miliar. Namun Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh, yakin bahwa
perseroan akan berhasil melampaui target penjualan dan laba sampai akhir tahun 2020 ini.
Perseroan memproyeksikan kenaikan laba bersih pada akhir tahun 2020 sebesar Rp 110 miliar
dan penjualan sampai akhir tahun mengalami kenaikan sebesar 10% menjadi Rp 440 miliar.

MARK Menggenjot Kapasitas Produksi Secara Agresif Sebesar 47% Di Tahun 2021

Tanjung Morawa, 13 Agustus 2020 – PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK”), emiten yang
bergerak dalam pembuatan produk porselen cetakan sarung tangan yang akan digunakan untuk
medis, rumah tangga dan industri manufaktur. Perseroan berdomisili di Kawasan Industri Medan
Star, Deli Serdang Sumatera Utara akan menggenjot kapasitas produksinya secara agresif sebesar
47% yaitu 12.000.000 unit per tahun di tahun 2021 untuk mengakomodir permintaan yang tinggi.

Seiring meningkatnya kebutuhan sarung tangan di tengah pandemi Covid-19 yang sedang merebak
di berbagai Negara, dan dinyatakannya sebagai pandemi global oleh organisasi kesehatan dunia
WHO, telah meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya kesehatan. Hal ini
mengakibatkan melonjaknya permintaan sarung tangan di tingkat global dan juga mengakibatkan
cukup pesatnya pertumbuhan pabrik sarung tangan di Negara Amerika Serikat, China dan Afrika
Selatan. Kondisi ini berimbas adanya permintaan cetakan sarung tangan dengan kapasitas produksi
yang besar dan tentunya ini berdampak positif bagi MARK  sebagai pemasok 35% pasar cetakan
sarung tangan karet di dunia.

Tren permintaan sarung tangan sepuluh tahun terakhir konsisten dengan pertumbuhan CAGR
sebesar 10% sampai 12% dan ditengah pandemi Covid-19 telah mengalami peningkatan hingga
25%, sehingga permintaan sarung tangan dunia telah melebihi kapasitas produksi yang tersedia.
Kapasitas produksi Perseroan yang semula 700.000 unit per bulan di tahun 2020 tidak mencukupi
permintaan cetakan sarung tangan yang begitu agresif sehingga saat ini, mulai kuartal III tahun 2020
Perseroan meningkatkan kapasitasnya menjadi 780.000 unit per bulan.

Saat ini  MARK telah mengoperasikan dua pabrik. Pabrik utama berada di Tanjung Morawa yaitu di
Kawasan Industri Medan Star dan pabrik baru yang berada di Jalan Utama Dusun I Desa X-A,
Tanjung Morawa, Deli Serdang, Sumatera Utara. Dengan proyeksi permintaan pasar dan guna
memenuhi permintaan yang selalu meningkat tersebut, Perseroan akan meningkatkan kapasitasnya
produksinya sebagai berikut :

Tahun 2021 sebanyak 1.000.000 unit per bulan
Tahun 2022 sebanyak 1.200.000 unit per bulan
Tahun 2023 sebanyak 1.300.000 unit per bulan
Tahun 2024 sebanyak 1.400.000 unit per bulan.

Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh menyampaikan bahwa kapasitas diproyeksikan akan tumbuh
dengan CAGR sebesar >16% sampai tahun 2024 sesuai dengan proyeksi permintaan pasar. Dimana
pabrik baru MARK saat ini masih hanya ter-utilisasi sebesar 40% sehingga MARK dapat
meningkatkan lagi kapasitasnya untuk memenuhi permintaan tanpa anggaran CAPEX yang besar.

Perencanaan Proyek MARK dalam lima tahun kedepan sebagaimana digambarkan pada grafik
dibawah ini.

Pertumbuhan  kapasitas produksi perseroan tidak hanya berdampak pada peningkatan laba akan
tetapi juga memiliki efek positif terhadap penyerapan tenaga kerja. Saat ini perseroan sudah
menyiapkan penambahan tenaga kerja baru dimana dalam situasi pandemi ini banyak sekali unit
usaha yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja. Perseroan juga dalam hal ini terus
berupaya untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja dengan terus memperhatikan prosedur
protokol kesehatan.
Selain itu perseroan juga terus berinovasi dan melakukan diversifikasi produk. Salah satu strategi
inovasi perseroan adalah memanfaatkan sisa bahan baku produk utama perseroan menjadi produk
yang bernilai tambah yaitu produk sanitary berupa produk kloset yang sudah bisa di produksi di
akhir tahun ini.
Dengan demikian Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh menyampaikan Perseroan akan mencapai
margin yang lebih baik seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi perseroan. Prospek Bisnis
MARK terus menjanjikan, sebut Ridwan Goh.

MARK MEMBAGIKAN DIVIDEN TUNAI RP 26,6 MILIAR

Deli Serdang, 11 Agustus 2020 – PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK”) membagikan Dividen
Tunai sebesar Rp 26,6 miliar kepada 3.800.000.310 saham beredar atau Rp 7 per lembar saham. Keputusan
ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan yang diselenggarakan pada hari ini,
Senin 11 Agustus 2020, di Prime Plaza Hotel Kualanamu, Deli Serdang. Dividen Tunai tersebut
merepresentasikan sekitar 30,2% dari Laba Bersih Tahun Berjalan untuk tahun yang berakhir 31 Desember
2019  yang sebesar Rp 88 miliar.

Dalam RUPS Tahunan tersebut diputuskan juga antara lain menerima baik dan menyetujui Laporan Tahunan
Konsolidasian MARK dan Entitas Anak untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019,
termasuk Laporan Tahunan Direksi dan Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris.

Dalam penjelasannya setelah RUPS, Ridwan Goh, Presiden Direktur MARK mengungkapkan bahwa
dividen tunai yang dibagikan ini dimaksudkan sebagai apresiasi kepada seluruh pemegang saham
Perusahaan. “Manajemen MARK telah berkomitmen untuk memberikan nilai tambah bagi pemegang saham,
antara lain dengan mengusulkan dividen tunai setiap tahunnya. Dan tahun ini merupakan tahun ketiga
MARK membagikan dividen setelah IPO pada tahun 2017 silam.”

Kinerja MARK Tahun 2019
Perseroan berhasil menjaga tingkat efisiensi serta  mempertahankan kualitas produk sesuai dengan
permintaan pelanggan. Hal ini terlihat dari keberhasilan Perseroan menjaga margin laba kotor sebesar
43.26% dengan nilai sebesar Rp 156,42 miliar. “Kinerja yang positif membuat Perseroan mampu
meningkatkan laba bersih di tahun 2019”, sebut Ridwan Goh, Presiden Direktur MARK. Perseroan berhasil
memperoleh laba bersih pada tahun 2019 sebesar Rp 88,00 miliar yang meningkat sebesar 7,45% jika
dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar Rp 81,90 miliar. Peningkatan laba bersih ini sebagai akibat dari
peningkatan Penjualan Perseroan pada tahun 2019 sebesar 11,08% menjadi Rp 361,54 miliar jika
dibandingkan dengan tahun 2018 sebesar Rp 325,47 miliar. Pertumbuhan kinerja operasional yang dicapai
Perseroan pada tahun 2019 berjalan seiring dengan peningkatan kinerja keuangan dimana Total Aset
Perseroan meningkat sebesar 38,72% menjadi Rp 441,25 miliar per 31 Desember 2019 dibandingkan dengan
Rp 318,08 miliar Per 31 Desember 2018.

Kinerja MARK Kuartal II Tahun 2020
Ridwan Goh menyampaikan bahwa Perseroan kembali menunjukkan kinerjanya yang positif di kuartal II
tahun 2020 ini. Perseroan mampu meningkatkan laba bersih sebesar Rp 51,72 miliar pada kuartal II tahun
2020 yang meningkat sebesar 14,65% jika dibandingkan dengan kuartal II tahun 2019 sebesar Rp 45,11
miliar. Perseroan berhasil menjaga margin laba kotor di 41,31% dengan nilai sebesar Rp 79,57 miliar dan
margin laba bersih di 26,84%. Hal ini didukung dari peningkatan penjualan Perseroan sebesar 9,57% yaitu
Rp 192,63 miliar pada kuartal II tahun 2020 jika dibandingkan dengan kuartal II tahun 2019 sebesar Rp
175,80 miliar. Pencapaian Laba ini didukung dengan strategi produksi dan efisiensi Perseroan sepanjang
kuartal II tahun 2020 di tengah pandemi Covid-19. Seiring meningkatnya kebutuhan sarung tangan di tengah
pandemi Covid-19 yang sedang merebak di berbagai Negara, dan dinyatakannya sebagai pandemi global
oleh organisasi kesehatan dunia WHO, telah meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya
kesehatan, mengakibatkan pertumbuhan pabrik sarung tangan di Negara Amerika Serikat, China dan Afrika
Selatan dapat dikatakan cukup pesat. Salah satu strategi MARK untuk mengejar pertumbuhan penjualan
adalah perseroan senantiasa menambah pelanggan baru. Saat ini Perseroan dalam tahap peningkatan
kapasitas menjadi 780.000 unit per bulan di kuartal III tahun 2020 guna memenuhi permintaan pelanggan.

MARK Mempertahankan Kinerja Positifnya pada Kuartal II Tahun 2020 Prospek Bisnis Perseroan Terus Menjanjikan

Medan, 27 Juli 2020 – PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (“MARK”), emiten yang bergerak
dalam pembuatan produk porselen cetakan sarung tangan yang akan digunakan untuk medis,
rumah tangga dan industri manufaktur. Perseroan berdomisili di Kawasan Industri Medan
Star, Deli Serdang Sumatera Utara berhasil membukukan penjualan sebesar Rp 192,63 miliar
pada kuartal II tahun 2020 yang meningkat sebesar 9,57 % jika dibandingkan dengan kuartal
II tahun 2019 sebesar Rp 175,80 miliar.

Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh menyampaikan bahwa Perseroan kembali
menunjukkan kinerjanya yang positif di kuartal II tahun 2020 ini. Perseroan mampu
meningkatkan laba bersih sebesar Rp 51,72 miliar pada kuartal II tahun 2020 yang meningkat
sebesar 14,65 % jika dibandingkan dengan kuartal II tahun 2019 sebesar Rp 45,11 miliar.
Pencapaian yang diraih oleh MARK merupakan keberhasilan Perseroan menjaga tingkat
efisiensi serta  mempertahankan kualitas produk sesuai dengan permintaan pelanggan. Hal ini
terlihat dari keberhasilan Perseroan menjaga margin laba kotor di 41,31 % dengan nilai
sebesar Rp 79,57 miliar dan margin laba bersih di 26,84%. “Pencapaian Laba ini didukung
dengan strategi produksi dan efisiensi Perseroan sepanjang kuartal II tahun 2020 di tengah
pandemi Covid-19,” sebut Ridwan Goh.

Melalui Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Nomor 08 Tahun 2020, Pemerintah
resmi menurunkan harga gas industri menjadi US$ 6 per million british termal units (mmbtu).
Terdapat 7 (tujuh) sektor industri yang bisa menikmati penurunan harga gas tersebut, yaitu :
pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca dan sarung tangan karet. Penurunan harga
gas ini tentunya memberikan dampak yang baik bagi MARK, dikarenakan komposisi biaya
bahan bakar gas terhadap biaya produksi mencapai 10% sampai dengan 15%.

Selanjutnya, seiring meningkatnya kebutuhan sarung tangan di tengah pandemi Covid-19
yang sedang merebak di berbagai Negara, dan dinyatakannya sebagai pandemi global oleh
organisasi kesehatan dunia WHO, telah meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan
pentingnya kesehatan, mengakibatkan pertumbuhan pabrik sarung tangan di Negara Amerika
Serikat, China dan Afrika Selatan dapat dikatakan cukup pesat.

Salah satu strategi MARK untuk mengejar pertumbuhan penjualan adalah perseroan
senantiasa menambah pelanggan baru. Pada bulan Mei lalu terjadi permintaan cetakan sarung
tangan dengan kapasitas produksi yang besar yang berasal dari 3 (tiga) pelanggan baru asal
negara China. Ketiga pelanggan baru tersebut telah menyepakati sales contract atau kontrak
dagang dengan MARK. Pengapalan unit cetakan sarung tangan tersebut dilakukan pada
sepanjang bulan Juni 2020 sampai dengan Oktober 2020. Dengan kontrak dagang ini, maka
kontribusi pasar ekspor ke Negara China diperkirakan akan meningkat 20% – 25%.

Presiden Direktur MARK, Ridwan Goh mengatakan selama kuartal II tahun 2020 kinerja
penjualan ekspor tidak mengalami hambatan, dengan komposisi penjualan ekspor sebesar
95% dan penjualan lokal sebesar 5%.

Tren permintaan sarung tangan sepuluh tahun terakhir konsisten dengan pertumbuhan CAGR
sebesar 10 sampai 12 persen dan ditengah pandemi Covid-19 telah mengalami peningkatan
hingga 16 persen, sehingga permintaan sarung tangan dunia telah melebihi kapasitas produksi
yang tersedia. Hal ini berbanding lurus dengan bisnis Perseroan dimana permintaan cetakan
sarung tangan telah terpenuhi sampai dengan akhir kuartal I tahun 2021. Kapasitas Perseroan
yang semula 700.000 unit per bulan di tahun 2020 tidak mencukupi permintaan cetakan
sarung tangan yang begitu agresif sehingga saat ini Perseroan dalam tahap peningkatan
kapasitas menjadi 780.000 unit per bulan di kuartal III tahun 2020 guna memenuhi
permintaan tersebut.

Proyeksi penjualan dan laba  bersih Perseroan di tahun 2020 akan mengalami peningkatan
yang signifikan ditengah situasi pandemi Covid-19 dan Perseroan akan mencapai margin
yang lebih baik seiring dengan meningkatnya kapasitas produksi perseroan.

Total Aset Meningkat 9,99 %

Pertumbuhan kinerja operasional yang dicapai Perseroan pada tahun kuartal II tahun 2020
berjalan seiring dengan peningkatan kinerja keuangan dimana Total Aset Perseroan
meningkat sebesar 9,99 % menjadi Rp 485,33 miliar per 30 Juni 2020 dibandingkan dengan
Rp 441,25 miliar per 31 Desember 2019. Aset Lancar mengalami peningkatan sebesar 8,52 %
dengan nilai sebesar Rp 249,51 miliar per 30 Juni 2020 dibandingkan dengan
Rp 229,92 miliar per 31 Desember 2019. Sementara peningkatan Aset Tidak Lancar sebesar
11,58 % dengan nilai Rp 235,81 miliar per 30 Juni 2020 jika dibandingkan dengan Rp 211,33
miliar per 31 Desember 2019. Peningkatan juga terjadi pada posisi Ekuitas Perseroan sebesar
14,95% dengan nilai Rp 343,74 miliar per 30 Juni 2020 dibandingkan dengan Rp 299,02
miliar per  31 Desember 2019.

Tabel Ringkasan Kinerja Operasional
Kinerja Operasional (dalam Rupiah)

Q2 – 2020 (Rp) Q2 – 2019 (Rp) %
Penjualan 192.627.012.605 175.804.489.054 9,57
BebanPokokPenjualan 113.059.801.506 98.068.418.407 15,28
LabaBersih 51.716.122.308 45.113.949.636 14,65
LabaKomprehensif 51.662.874.755 45.112.694.572 14,51

MARK Terus Meningkatkan Pangsa Pasar Perseroan Ke Beberapa Sektor

Deli Serdang, 07 Juli 2020 – Seperti diketahui, MARK telah mengumumkan keterbukaan
informasi publik terkait rencana corporate action perseroan mengakuisisi PT Berjaya Dynamics
Indo (BDI) yang merupakan induk usaha dari PT. Agro Dynamics Indonesia (ADI). Sebelum
rencana akuisisi ini, seperti disebutkan pada keterbukaan informasi bahwa BDI memiliki
kepemilikan di ADI sebesar 66,73 % dan setelah proses akuisisi ini maka BDI akan menambah
kepemilikan di ADI menjadi sebesar 99,9 %, yang dananya berasal dari setoran modal MARK
sebagai pemegang saham baru di BDI.

Transaksi akuisisi ini merupakan upaya Perseroan dalam rangka pengembangan usaha Perseroan.
Perseroan memandang strategi pengembangan usaha melalui pengambilalihan perusahaan yang
bergerak dalam bidang peralatan pertanian, perkebunan dan sejenisnya yang dinilai memiliki
prospek usaha yang baik. Dengan melakukan rencana transaksi akuisisi diharapkan akan
memberikan peluang kepada Perseroan untuk berinvestasi dan mengkapitalisasi potensi yang ada
dalam industri pertanian khususnya peralatan pertanian serta memaksimalkan sinergi yang dapat
tercipta dari pengembangan usaha tersebut secara efektif sehingga dapat meningkatkan pangsa
pasar Perseroan, papar Ridwan Goh, Presiden Direktur Perseroan.

Sebelum rencana akuisisi ini BDI memiliki total aset secara konsolidasi sebesar Rp 53,2 miliar,
sedangkan ADI sendiri memiki total aset Rp 46 miliar. ADI selama ini bergerak dibidang
distribusi alat-alat pertanian seperti peralatan sprayer dan juga produk seperti herbisida, ethepon
(penyubur) yang diperlukan oleh industri pertanian dan juga perkebunan. Industri pertanian
merupakan industri yang penting di Indonesia, penyumbang PDB terbesar setelah manufaktur.
Berdasarkan data BPS di Q3 2019, kontribusi sektor pertanian sebesar 13,45% pada PDB
Indonesia, menempati posisi kedua setelah sektor manufaktur yang memiliki kontribusi sebesar
19,62%. Dari sumber BPS disebutkan juga bahwa kementan mengalokasikan dan Rp 1,1 triliun
untuk anggaran alat-alat pertanian.

Berdasarkan data Indonesia Agriculture Equipment Market, industri alat pertanian diproyeksikan
tumbuh dengan  CAGR sekitar 6 % mulai dari 2019 sampai dengan 2025. Adapun pangsa pasar
alat pertanian dan produk herbisida bagi ADI sendiri masih terbuka luas. Hal ini terlihat dari
pertumbuhan penjualan ADI di 2017 sebesar 66% dibanding di tahun 2016, begitu juga di tahun
2018 penjualan bertumbuh sebesar 33% dan di tahun 2019 pertumbuhannya sebesar 54%.

Di tahun 2020 ini, dimana dalam situasi wabah Covid-19, produk ADI yang berupa alat sprayer
menjadi laku keras yang mana penggunaannya tidak hanya untuk pertanian tetapi juga sudah
meluas untuk penyemprotan anti septic untuk gedung-gedung, rumah sakit dan tempat-tempat
umum lainnya. Target laba dari ADI di 2020 ini sebesar Rp 12 miliar diharapkan optimis akan
tercapai.

Dengan akuisisi ini nantinya pangsa pasar BDI dan ADI tidak hanya di sektor pertanian akan
tetapi juga akan masuk ke sektor sanitary ware yang berupa produk kloset. Konsumsi produk kloset di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun yang rata-rata kenaikannya pertahun
sekitar 20%. Konsumsi produk kloset secara nasional di perkirakan sudah mencapai 3 juta unit di
tahun 2019. Sehingga kami mentargetkan pertumbuhan penjualan BDI secara konsolidasi
sebesar 25%, ungkap Ridwan Goh.

Jadi dengan akuisisi ini sejatinya akan menambah nilai perseroan dan membuka peluang
perseroan untuk dapat meningkatkan lagi pundi pundi pendapatannya.